Oleh: H. Muhajir Wahyu Ramadhan
Hari ini, 5 Oktober 2026, Tentara Nasional Indonesia genap berusia 81 tahun.
Delapan dekade lebih tentu bukan perjalanan pendek. TNI telah melewati pergantian zaman, perubahan pemerintahan, konflik, bencana, ancaman terhadap kedaulatan negara, hingga perkembangan teknologi pertahanan yang bergerak semakin cepat.
Setiap HUT TNI, masyarakat biasanya menunggu satu hal: melihat seberapa kuat militernya.
Ada barisan prajurit. Kendaraan tempur. Pesawat. Kapal perang. Persenjataan. Hingga berbagai demonstrasi kemampuan pasukan.
Kita memang perlu melihat itu.
Indonesia adalah negara besar. Wilayahnya luas. Lautnya membentang. Perbatasannya panjang. Ruang udaranya harus dijaga.
Negara sebesar Indonesia tidak mungkin mempertahankan kedaulatannya hanya dengan slogan.
Kita membutuhkan TNI yang kuat.
Kita membutuhkan persenjataan modern.
Kita membutuhkan teknologi pertahanan yang mampu mengikuti perubahan zaman.
Tetapi bagi saya, ada ukuran lain yang tidak kalah penting.
Rakyat tidak hanya ingin melihat seberapa banyak tank yang dimiliki negaranya. Rakyat ingin merasakan bahwa negaranya benar-benar melindungi mereka.
Dan HUT ke-81 TNI tahun ini memberi pelajaran menarik.
Puncak peringatan yang semula direncanakan berlangsung meriah di kawasan Monas akhirnya digelar lebih sederhana di Mabes TNI, Cilangkap.
Alasannya sederhana, tetapi maknanya besar.
Banyak prajurit masih berada di berbagai daerah membantu penanganan bencana.
Menurut saya, justru di situlah salah satu wajah paling nyata kekuatan TNI terlihat.
Tank boleh tidak melintas di depan podium.
Pesawat tempur boleh tidak bermanuver di langit.
Barisan pasukan mungkin tidak sebanyak yang semula direncanakan.
Tetapi ketika seorang prajurit membantu mengevakuasi warga, membuka akses jalan yang terputus, mengangkut bantuan, menembus wilayah terdampak bencana, atau berdiri bersama masyarakat ketika keadaan sedang sulit, bukankah itu bentuk kekuatan yang jauh lebih dirasakan rakyat?
Alutsista adalah instrumen pertahanan. Tetapi kepercayaan rakyat adalah modal pertahanan yang tidak kalah penting.
Tema HUT ke-81 TNI tahun ini, “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur,” terasa menemukan maknanya dalam situasi tersebut.
Sebab ancaman terhadap negara hari ini juga terus berubah.
Ancaman tidak selalu datang dalam bentuk tentara asing yang membawa senjata.
Ada persoalan perbatasan.
Ada keamanan laut dan ruang udara.
Ada serangan siber.
Ada kejahatan lintas negara.
Ada ketegangan geopolitik.
Ada perlombaan teknologi militer.
Dan jangan lupa, Indonesia adalah negara yang juga menghadapi risiko bencana alam besar.
Karena itulah TNI harus terus berubah tanpa kehilangan jati dirinya.
Profesional.
Modern.
Adaptif.
Disiplin.
Kuat secara teknologi, tetapi tetap dekat dengan rakyat.
Modernisasi alutsista tentu penting. Tetapi modernisasi pertahanan tidak boleh hanya diukur dari berapa pesawat, kapal, rudal atau kendaraan tempur yang berhasil dibeli.
Kualitas manusianya jauh lebih menentukan.
Secanggih apa pun senjata, tetap ada manusia yang mengoperasikannya.
Karena itu, peningkatan kemampuan, pendidikan, profesionalisme dan kesejahteraan prajurit harus berjalan seiring dengan modernisasi alat utama sistem persenjataan.
Prajurit yang ditempatkan di perbatasan membutuhkan dukungan yang layak.
Prajurit yang menjaga pulau terluar membutuhkan fasilitas yang memadai.
Prajurit yang mempertaruhkan keselamatan dalam operasi maupun penanganan bencana juga mempunyai keluarga yang harus diperhatikan kesejahteraannya.
Begitu pula dengan anggaran pertahanan.
Semakin besar anggaran negara yang digunakan untuk memperkuat pertahanan, semakin besar pula tuntutan terhadap transparansi, akuntabilitas dan efektivitas penggunaannya.
Setiap rupiah yang digunakan untuk pertahanan pada akhirnya berasal dari rakyat.
Maka hasil akhirnya juga harus kembali kepada rakyat dalam bentuk pertahanan yang semakin kuat dan rasa aman yang semakin nyata.
Usia 81 tahun mestinya bukan hanya menjadi momentum menghitung panjang perjalanan sejarah TNI.
Tetapi juga momentum untuk bertanya.
Apakah pertahanan Indonesia hari ini semakin kuat?
Apakah laut kita semakin terjaga?
Apakah wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar semakin terlindungi?
Apakah kemampuan menghadapi ancaman siber semakin siap?
Apakah prajurit semakin profesional?
Apakah keluarga prajurit semakin sejahtera?
Dan pertanyaan paling sederhana:
Apakah rakyat semakin merasa aman?
Sebab keberhasilan sebuah angkatan bersenjata tidak hanya terlihat ketika masyarakat bertepuk tangan menyaksikan parade.
Keberhasilan itu justru terasa ketika rakyat dapat menjalankan kehidupannya dengan tenang karena percaya ada prajurit yang menjaga republik ini.
Ada yang berjaga di perbatasan ketika kita tidur.
Ada yang berlayar menjaga laut ketika kita berada di rumah.
Ada yang mengawasi ruang udara ketika kita menjalani aktivitas sehari-hari.
Ada yang menjaga pulau terluar yang mungkin tidak pernah kita datangi.
Dan ada pula yang turun ke lumpur ketika bencana datang.
Mereka mungkin tidak selalu masuk kamera.
Namanya mungkin tidak pernah kita kenal.
Tetapi di pundak merekalah sebagian keamanan republik ini dititipkan.
Selamat HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia.
Tank, kapal perang dan pesawat tempur menunjukkan kemampuan sebuah negara.
Tetapi prajurit yang profesional, disiplin, modern, sejahtera, dekat dengan rakyat dan hadir ketika dibutuhkanlah yang membuat kekuatan itu dipercaya.
Karena pada akhirnya, pertahanan terbaik bukan hanya yang terlihat gagah ketika parade berlangsung.
Pertahanan terbaik adalah ketika rakyat merasa aman menjalani hidupnya setiap hari.
Salam Abahtindik.





