SURABAYA, ANALISA PUBLIK – Kekeringan akibat musim kemarau panjang mulai meluas di Jawa Timur. Sebanyak 24 kabupaten/kota dilaporkan telah menerbitkan surat keputusan kedaruratan kekeringan, dengan persoalan ketersediaan air bersih menjadi salah satu dampak utama yang dirasakan masyarakat.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk membantu warga di daerah terdampak, terutama melalui distribusi air bersih.
Selain penanganan langsung, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga berkoordinasi mengenai kemungkinan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah tersebut dapat dilakukan apabila kondisi atmosfer dan keberadaan awan memungkinkan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Di tengah berbagai upaya teknis tersebut, Khofifah juga mengajak masyarakat melakukan ikhtiar spiritual dengan melaksanakan Salat Istisqa.
“Kalau komunitas yang memungkinkan untuk bisa menyegerakan Salat Istisqa akan menjadi sangat baik, karena Salat Istisqa adalah ibadah untuk memohon kepada Allah agar segera menurunkan hujan,” kata Khofifah.
Salat Istisqa merupakan salat sunah yang dilaksanakan umat Islam untuk memohon turunnya hujan ketika suatu wilayah mengalami kemarau panjang maupun kekeringan.
Khofifah berharap ikhtiar melalui doa dapat berjalan beriringan dengan langkah pemerintah dalam menangani dampak kemarau, termasuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Kekeringan tahun ini telah berdampak pada sejumlah wilayah di Jawa Timur. Pemerintah daerah bersama BPBD terus melakukan penjangkauan dan distribusi air bersih ke daerah yang mengalami keterbatasan sumber air.
Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, termasuk menghemat penggunaan air serta mengantisipasi berbagai risiko lain yang dapat muncul akibat kondisi cuaca kering berkepanjangan.
Editor: H. Muhajir Wahyu Ramadhan






