Trenggalek, analisapublik.id – Pemerintah Kabupaten Trenggalek telah menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi menyusul cuaca ekstrem dan intensitas hujan tinggi yang melanda wilayah tersebut sejak akhir Oktober.
Dalam sepekan terakhir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mencatat serangkaian bencana longsor dan banjir, termasuk kejadian mematikan pada dua hari terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Triadi Atmono, pada Minggu (2/11) mengatakan bahwa curah hujan tinggi memicu empat bencana alam di tiga kecamatan. Kejadian paling parah terjadi di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, di mana longsor menewaskan dua warga dan dua lainnya masih dalam pencarian.
Selain Bendungan, longsor juga terjadi di Desa Dawuhan dan wilayah Kecamatan Dongko, menyebabkan sejumlah rumah rusak dan menutup akses jalan. Sekitar 100 kepala keluarga dilaporkan mengungsi.
Sementara itu, di Kecamatan Trenggalek, luapan Sungai Brangkal menyebabkan banjir yang menggenangi puluhan rumah di Desa Ngares dan Dawuhan, berdampak pada sedikitnya 165 jiwa.
”Curah hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu utama longsor dan banjir. Kami sudah mengerahkan tim gabungan untuk penanganan darurat, termasuk pembersihan material dan pencarian korban. Alat berat sudah kami kirim untuk membuka akses jalan yang tertutup longsor,” kata Triadi.
BPBD Trenggalek saat ini memperkuat koordinasi dengan seluruh kecamatan dan relawan di daerah rawan, khususnya perbukitan dan bantaran sungai. Langkah mitigasi dan pemantauan dini terus dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengingat peringatan dari BMKG Juanda tentang potensi hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang di wilayah selatan Jawa Timur, termasuk Trenggalek, dalam sepekan ke depan. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin puting beliung. ( wa/ar)








