EDITORIALHeadline

Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Tekanan Global dan Sentimen Pasar Picu Kekhawatiran Baru

3688
×

Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Tekanan Global dan Sentimen Pasar Picu Kekhawatiran Baru

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – analisapublik.id | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan signifikan hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Pelemahan mata uang Garuda tersebut memicu perhatian pelaku pasar dan pengamat ekonomi, di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta tekanan dari berbagai faktor eksternal maupun domestik.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memprediksi tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Bahkan, menurutnya, nilai tukar rupiah berpotensi kembali bergerak menuju level Rp17.550 apabila sentimen negatif di pasar global belum mereda.

“Hari ini rupiah terus mengalami pelemahan. Sudah menyentuh level Rp17.500 dan kemungkinan besar akan kembali menuju Rp17.550-an. Angka tersebut berpeluang tercapai dalam pekan ini,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Ibrahim menjelaskan, pelemahan signifikan rupiah saat ini dipicu kombinasi tekanan geopolitik internasional dan tantangan ekonomi domestik yang masih membayangi pasar keuangan nasional. Dari sisi eksternal, memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah disebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan indeks dolar AS.

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dikabarkan menolak sejumlah proposal perdamaian terkait konflik Iran, sementara aktivitas militer di kawasan Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran pasar global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Tak hanya itu, Ibrahim juga menyoroti adanya serangan terhadap fasilitas kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, yang turut memperburuk sentimen pasar energi dunia. Insiden tersebut berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia jenis Brent crude oil.

Kenaikan harga minyak global dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terutama melalui meningkatnya biaya impor energi, logistik, dan transportasi.

Secara domestik, pelemahan rupiah juga menjadi perhatian pelaku usaha karena berpotensi memengaruhi harga bahan baku impor, inflasi, hingga daya beli masyarakat apabila tekanan berlangsung dalam waktu panjang.

Pemerintah dan otoritas moneter kini dihadapkan pada tantangan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, sekaligus memastikan kepercayaan pasar tetap terjaga.

Reporter: Rijen Senario
Editor: Respati
Sumber: analisapublik.id

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.