Gaya HidupHeadlinePolitik

Megawati Usulkan Konferensi Asia Afrika Plus (KAA Plus) Lawan Ketimpangan Global

×

Megawati Usulkan Konferensi Asia Afrika Plus (KAA Plus) Lawan Ketimpangan Global

Sebarkan artikel ini

Jakarta,analisapublik.id – Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) dan Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, secara lantang mengusulkan pembentukan Konferensi Asia Afrika Plus (KAA Plus). Forum lanjutan dengan format yang lebih luas ini diinisiasi untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan struktural di tingkat global.

Usulan tersebut disampaikan Megawati dalam pidato yang penuh semangat di Museum Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, pada hari Sabtu. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 70 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).

Wadah Permanen bagi Global South

Megawati menjelaskan bahwa KAA Plus diharapkan menjadi wadah permanen bagi negara-negara Selatan Dunia (Global South) untuk:

Membangun masa depan bersama.

Bebas dari ketimpangan dan hegemoni.

Bebas dari ketidakadilan struktural global.

Forum ini akan mencakup negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin, mengisi kekosongan diplomasi strategis yang menyatukan ketiga kawasan tersebut secara permanen.

Semangat Bandung Abad ke-21

Gagasan KAA Plus menegaskan kembali Semangat Bandung 1955 dalam konteks abad ke-21. Jika enam dekade lalu KAA mempersatukan negara-negara baru merdeka melawan kolonialisme, kini Megawati menyerukan solidaritas baru untuk menghadapi:

Ketimpangan ekonomi.

Hegemoni teknologi.

Dominasi geopolitik.

“Jika pada 1955 Bung Karno dan para pemimpin dunia ketiga mampu mengguncang tatanan kolonial, maka pada abad ke-21 kita juga mampu mengguncang tatanan digital dan ekonomi yang tidak adil,” tegas Megawati.

Seruan ini sejalan dengan tren global di mana Global South kian memperkuat koordinasi, terlihat dari forum seperti BRICS Plus, G77 + China, dan Non-Aligned Movement Revival.

Data dan Kesenjangan Global

Megawati menyoroti bahwa arsitektur global saat ini masih timpang. Berdasarkan data World Bank (2025):

84 negara Global South menampung lebih dari 75% populasi dunia.

Namun, hanya menguasai sekitar 37% PDB global.

Ketergantungan ekonomi dan teknologi terhadap negara maju pun semakin tinggi. Laporan UNCTAD 2024 menunjukkan negara berkembang hanya menerima 15% investasi global di sektor teknologi tinggi, yang memperlebar kesenjangan inovasi.

“Asia, Afrika, dan Amerika Latin perlu membangun arsitektur baru ekonomi dan teknologi global yang lebih setara,” kata Megawati.

Moralitas Peradaban dan Obor Bandung

Megawati menekankan bahwa diplomasi internasional ke depan tidak boleh lagi hanya berlandaskan kekuatan militer atau dominasi ekonomi. Dunia memerlukan moralitas peradaban, seperti yang diserukan Bung Karno dalam pidatonya di PBB tahun 1960, To Build the World Anew.

Melalui KAA Plus, Megawati ingin Global South bersatu dalam agenda bersama, meliputi:Kedaulatan data.,Ketahanan energi.keadilan ekonomi. Tata kelola teknologi yang adil.“Dari Blitar ini, mari kita bangun dunia baru yang tidak tunduk pada mesin dan modal, tetapi menempatkan manusia sebagai pusat peradaban,” tutup Megawati, ingin mengobarkan kembali “obor Bandung” sebagai cahaya bagi dunia yang tengah terpecah. ( wa/ar)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.