SURABAYA, analisapublik.id – Transformasi perkeretaapian nasional di Jawa Timur terus dipacu untuk memperkuat mobilitas di kawasan aglomerasi. KAI Commuter kini tengah mematangkan rencana strategis perpanjangan lintas pelayanan Commuter Line Supas dari Surabaya–Pasuruan hingga menjangkau Kota Probolinggo.
Langkah ini diambil sebagai respons atas tingginya ketergantungan masyarakat terhadap transportasi berbasis rel. VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, menyatakan bahwa penguatan layanan ini bertujuan untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi daerah melalui aksesibilitas yang lebih luas.
“Dengan adanya penambahan lintas layanan ini, diharapkan dapat mendorong perekonomian masyarakat di wilayah Jawa Timur,” ujar Karina dalam keterangan resminya, Sabtu, 17 Januari 2026.
Saat ini, Commuter Line Supas melayani rute Surabaya–Pasuruan dengan rata-rata volume penumpang mencapai 4.417 orang per hari, atau berkisar 130 hingga 140 ribu pengguna per bulan. Angka ini dinilai menjadi basis kuat untuk memperluas cakupan layanan ke arah timur.
Jika rencana ini terealisasi, jarak tempuh operasional akan meningkat signifikan dari 63 kilometer menjadi sekitar 101 kilometer. Perpanjangan rute Surabaya–Pasuruan–Probolinggo ini diproyeksikan bakal mempermudah akses warga menuju pusat kegiatan industri, perkantoran, hingga destinasi wisata.
Berdasarkan hasil survei internal KAI Commuter, antusiasme warga Probolinggo terhadap moda ini mencapai angka 100 persen. Potensi akuisisi pengguna baru di Stasiun Probolinggo diprediksi mencapai 304 orang per hari.
Stasiun Probolinggo dinilai telah siap secara teknis dengan ketersediaan empat jalur pelayanan dan dua jalur stabling. Meski demikian, KAI Commuter tetap merencanakan peningkatan fasilitas penunjang guna menjamin kenyamanan penumpang.
“Peningkatan fasilitas seperti penambahan kanopi peron dan perluasan ruang tunggu tengah direncanakan. Kami juga akan menambah personel operasional, mulai dari petugas loket, pengamanan, hingga kebersihan,” tambah Karina.
Dukungan Regulasi dan Subsidi PSO
Rencana ekspansi ini mendapat lampu hijau dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api DJKA, Arif Anwar, menegaskan bahwa pihaknya tengah mengawal proses persiapan agar sesuai dengan regulasi pelayanan penumpang.
Arif memastikan bahwa layanan ini akan tetap masuk dalam skema subsidi Public Service Obligation (PSO) agar tarif tetap terjangkau oleh masyarakat luas.
“Kami berkoordinasi dengan KAI Commuter untuk memastikan seluruh kelengkapan terpenuhi. Jika semua persyaratan siap, kami mendorong operator untuk segera mengajukan izin operasi,” kata Arif.
Selain aspek teknis perkeretaapian, DJKA juga menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kota Probolinggo untuk memastikan adanya integrasi transportasi lanjutan (feeder) dari stasiun menuju pusat kota maupun kawasan wisata unggulan.
Upaya kolaboratif ini diharapkan menjadikan kereta api sebagai tulang punggung transportasi massal yang inklusif dan mampu mengurangi beban kepadatan jalan raya di jalur pantura Jawa Timur.
(Res)





