Di sela kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang berlangsung di Ballroom Excotel Hotel Surabaya, Ketua MKKS SMK Kota Surabaya, Anton Sujarwo, berbagi pengalaman mengenai tantangan memimpin organisasi kepala sekolah. Ia menekankan pentingnya sikap ngemong, komunikasi terbuka, dan pendekatan kekeluargaan untuk menjaga soliditas organisasi.
SURABAYA, analisapublik.id – Pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Ballroom Excotel Hotel Surabaya menjadi momentum wawancara mengenai dinamika kepemimpinan di lingkungan pendidikan kejuruan.
Di sela berlangsungnya kegiatan pengujian kompetensi profesi kewartawanan tersebut, Anton Sujarwo, Kepala SMKN 1 Surabaya sekaligus Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kota Surabaya, mengungkapkan pengalamannya dalam membangun kebersamaan antarkepala sekolah.
Anton, yang dipercaya memimpin MKKS SMK Kota Surabaya sejak Mei 2025, mengakui bahwa mengoordinasikan para kepala sekolah memiliki tantangan tersendiri. Setiap anggota membawa pengalaman, karakter, dan pandangan berbeda dalam mengelola lembaga pendidikan.
Dalam wawancara yang berlangsung di lokasi kegiatan UKW tersebut, Anton menegaskan bahwa kepemimpinan organisasi tidak cukup hanya mengandalkan kewenangan jabatan.
“Kuncinya adalah bisa ngemong,” ungkap Anton.
Menurutnya, kemampuan memahami karakter anggota menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan kerja dan menyatukan berbagai pemikiran.
Bangun Komunikasi Tanpa Sekat Formalitas
Anton menjelaskan bahwa pendekatan kekeluargaan menjadi salah satu cara yang diterapkannya untuk membangun hubungan antarkepala sekolah.
Komunikasi tidak selalu harus berlangsung melalui forum rapat resmi. Percakapan informal, termasuk berbincang sambil menikmati kopi, dapat menjadi sarana mendengarkan aspirasi sekaligus mencari titik temu atas perbedaan pandangan.
“Nah, di sinilah letak sulitnya. Sebab, anggota memiliki ego masing-masing,” tuturnya.
Ia menyadari bahwa anggota MKKS merupakan para pemimpin sekolah yang terbiasa mengambil keputusan dan mempunyai tanggung jawab besar di lembaga masing-masing.
Karena itu, pendekatan persuasif dinilainya diperlukan agar perbedaan pemikiran tidak menghambat koordinasi dan kerja sama organisasi.
Bagi Anton, menjaga hubungan baik bukan berarti menghilangkan perbedaan pendapat, melainkan membangun komunikasi yang memungkinkan setiap anggota saling memahami.
Jalankan Dua Amanah, Dorong Soliditas Pendidikan Kejuruan
Selain membahas pola kepemimpinan, Anton juga menyinggung tantangan membagi waktu antara tanggung jawab sebagai Kepala SMKN 1 Surabaya dan Ketua MKKS SMK Kota Surabaya.
Kesibukan menjalankan kedua amanah tersebut terkadang mengurangi kesempatan berkumpul bersama keluarga.
Meski demikian, ia memandang tanggung jawab organisasi sebagai amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Melalui pendekatan kekeluargaan, Anton berharap MKKS dapat terus menjadi wadah komunikasi dan kolaborasi antarkepala sekolah dalam menyelaraskan program serta mendukung peningkatan mutu pendidikan vokasi di Surabaya.
Pernyataan Anton yang disampaikan di sela kegiatan UKW tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya kemampuan komunikasi, kesabaran, dan sikap saling menghormati dalam mengelola organisasi yang beranggotakan sesama pemimpin lembaga pendidikan.
Baginya, kekompakan tidak hanya dibangun melalui keputusan formal, tetapi juga melalui kesediaan mendengarkan, memahami perbedaan, dan menjaga hubungan antarsesama anggota.
Reporter: Rijen Senario
Editor: Aris Setyoadji



