SIDOARJO, ANALISAPUBLIK.ID – Sekitar 2.000 pelajar dari lingkungan Yayasan Pendidikan Ma’arif (YPM) Sidoarjo memadati Masjid Agung Sidoarjo dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Senin (24/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti siswa bersama dewan guru SMK YPM 8 Sidoarjo, SMP YPM 7 Sidoarjo, dan MTs YPM 2 Sidoarjo. Selain menjadi momentum memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, kegiatan juga diarahkan untuk menanamkan karakter kepedulian sosial sekaligus mendekatkan generasi muda dengan masjid.
Peringatan Maulid Nabi tahun ini juga dirangkai dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia serta Haul ke-22 pendiri YPM, KH Hashim Latif.
Suasana berlangsung khidmat ketika Gus Peyek menyampaikan tausiah di hadapan ribuan pelajar, guru, dan tenaga pendidik.
Melalui ceramah agama tersebut, para siswa diajak memahami keteladanan Nabi Muhammad SAW, terutama dalam membangun akhlak, menghormati guru, mencintai ilmu, peduli terhadap sesama, serta menjaga kedekatan dengan ulama dan lingkungan masjid.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan karakter yang terus diperkuat di lingkungan YPM Sidoarjo agar pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki kepedulian sosial dan spiritual.
Ribuan Pelajar Diajak Dekat dengan Masjid
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK YPM 8 Sidoarjo, Muhammad Hasan Qodari, menyampaikan apresiasi kepada jajaran Takmir Masjid Agung Sidoarjo yang telah memberikan dukungan sehingga rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan baik.
Menurut Hasan, salah satu pesan penting dalam kegiatan tersebut adalah mengajak generasi muda menjadikan masjid sebagai ruang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Masjid tidak hanya dipandang sebagai tempat menjalankan ibadah, tetapi juga sebagai ruang belajar, membangun karakter, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian sosial.
“Anak-anak muda zaman sekarang kita ajak, kita kenalkan masuk masjid, biar tidak takut masjid,” tegas Hasan.
Menurutnya, kedekatan pelajar dengan masjid perlu terus dibangun sejak berada di lingkungan pendidikan agar nilai keagamaan tidak sekadar dipahami secara teori, tetapi tumbuh menjadi bagian dari kebiasaan dan karakter siswa.
Infak Buah Dibagikan kepada Warga Binaan Lapas Sidoarjo
Peringatan Maulid Nabi tersebut juga diisi dengan kegiatan tasyakuran melalui pengumpulan buah-buahan dari hasil infak siswa dan guru.
Buah-buahan yang terkumpul kemudian dibagikan kepada warga binaan di Lapas Sidoarjo serta kepada para siswa.
Kegiatan berbagi tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran sosial yang diterapkan secara langsung kepada peserta didik.
Hasan mengatakan, tradisi tersebut tidak hanya menjadi pelengkap rangkaian peringatan Maulid Nabi, tetapi juga menjadi sarana pendidikan agar siswa terbiasa memiliki rasa empati dan kepedulian terhadap orang lain.
“Harapannya anak-anak bisa saling berbagi dan bersama-sama merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah ingin menunjukkan bahwa nilai keteladanan Rasulullah SAW dapat diterjemahkan dalam tindakan sederhana namun nyata, salah satunya dengan berbagi kepada sesama.
YPM Tanamkan Kepedulian Sejak Bangku Sekolah
Semangat kepedulian sosial tersebut juga diterapkan dalam program pendidikan sehari-hari di SMK YPM 8 Sidoarjo.
Hasan menjelaskan, sekolah memiliki program khusus untuk membantu siswa dari keluarga kurang mampu agar tetap dapat mengikuti proses pendidikan dengan nyaman.
Bentuk bantuan tidak hanya menyangkut pembayaran SPP, tetapi juga mencakup kebutuhan perlengkapan sekolah seperti seragam, tas hingga sepatu.
Pendataan dilakukan melalui wali kelas yang berinteraksi langsung dengan para siswa sehingga kondisi peserta didik dapat diketahui lebih cepat.
“Ketika wali kelas melihat baju anak sobek, tas sobek atau sepatu sudah tidak bagus, langsung kami panggil dan kami ganti secara cuma-cuma,” jelas Hasan.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memastikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghambat bagi siswa untuk memperoleh pendidikan secara layak.
Sekolah juga berupaya menjaga agar siswa yang mendapatkan bantuan tetap memiliki rasa percaya diri dan tidak merasa berbeda dengan peserta didik lainnya.
Dengan demikian, pesan kepedulian yang disampaikan dalam peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diwujudkan melalui langkah konkret di lingkungan pendidikan.
Gus Peyek Dorong Pelajar Cinta Ulama
Hasan juga menyampaikan apresiasi kepada Gus Peyek yang dinilainya memiliki perhatian besar terhadap para pelajar di lingkungan YPM.
Menurut dia, kehadiran ulama dan tokoh agama di tengah generasi muda memiliki peranan penting dalam membangun pendidikan akhlak sekaligus memperkenalkan pelajar kepada figur yang dapat menjadi teladan dalam kehidupan.
Hubungan antara pelajar, guru, ulama, dan lingkungan pendidikan dinilai perlu terus diperkuat agar generasi muda memiliki pondasi moral yang kokoh di tengah perkembangan zaman.
“Saya berterima kasih kepada Gus Peyek. Separuh hatinya adalah siswa YPM. Mudah-mudahan anak-anak menjadi generasi yang cinta ulama, waratsatul anbiya’. Kita tidak bertemu Nabi, tetapi kita bertemu ulama dan guru TPQ,” pungkas Hasan.
Istilah waratsatul anbiya’ merujuk pada ulama sebagai pewaris para nabi dalam meneruskan ilmu, nilai moral, dan keteladanan kepada umat.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Sidoarjo tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan.
Bagi lingkungan pendidikan YPM Sidoarjo, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berakhlak, peduli terhadap sesama, mencintai masjid serta menghormati guru dan ulama.
Melalui tausiah, tradisi berbagi hingga program kepedulian bagi siswa kurang mampu, nilai keteladanan Rasulullah SAW diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari para peserta didik.
Reporter: Anas
Editor: Mas Bay






