Opini

Tips Merantau Agar Mandiri dan Tidak Menjadi Beban

245
×

Tips Merantau Agar Mandiri dan Tidak Menjadi Beban

Sebarkan artikel ini

SURABAYA – analisapublik.id | Merantau menjadi fenomena sosial-ekonomi yang terus meningkat di Indonesia, terutama pasca Lebaran ketika arus urbanisasi mengalami lonjakan signifikan. Data Badan Pusat Statistik mencatat tingkat urbanisasi nasional telah melampaui 56% populasi dan terus bertumbuh seiring konsentrasi aktivitas ekonomi di kota-kota besar. Dalam konteks tersebut, perantau tanpa kesiapan berisiko menghadapi kesulitan ekonomi hingga menjadi beban sosial di daerah tujuan.

Kajian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (kini BRIN) menunjukkan bahwa urbanisasi yang tidak diiringi keterampilan dan kepastian kerja dapat meningkatkan angka pengangguran perkotaan serta memperluas sektor informal yang rentan. Sejalan dengan itu, laporan World Bank menegaskan bahwa migrasi internal hanya berdampak positif apabila didukung kualitas sumber daya manusia, termasuk keterampilan kerja dan literasi keuangan.
Perencanaan menjadi faktor utama dalam keberhasilan merantau. International Labour Organization menilai bahwa perantau yang memiliki tujuan kerja jelas dan memahami peluang pasar tenaga kerja cenderung lebih mudah memperoleh pekerjaan yang layak dibandingkan mereka yang berangkat tanpa perencanaan.

Kesiapan keterampilan juga berperan penting. Data Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia menunjukkan bahwa tenaga kerja dengan keterampilan vokasi memiliki peluang kerja yang lebih tinggi, terutama di sektor jasa, industri, dan ekonomi digital yang berkembang pesat di wilayah perkotaan.

Dari sisi finansial, Otoritas Jasa Keuangan merekomendasikan adanya dana darurat untuk memenuhi kebutuhan hidup pada fase awal merantau. Tanpa cadangan keuangan, perantau berisiko mengalami tekanan ekonomi dan ketergantungan terhadap pihak lain.

Pemahaman terhadap biaya hidup di daerah tujuan juga menjadi faktor krusial. Kajian Asian Development Bank menunjukkan bahwa ketidaksesuaian antara ekspektasi dan realitas biaya hidup menjadi salah satu penyebab utama kegagalan adaptasi ekonomi perantau di kota besar.

Selain itu, aspek sosial turut memengaruhi keberhasilan merantau. Penelitian dari Universitas Indonesia menegaskan bahwa jaringan sosial berperan dalam membuka akses terhadap pekerjaan, tempat tinggal, serta mempercepat proses adaptasi di lingkungan baru.
Tekanan gaya hidup perkotaan juga menjadi tantangan tersendiri. Tanpa pengelolaan keuangan yang disiplin, perantau rentan terjebak dalam pola konsumsi yang tidak seimbang dengan pendapatan. Kondisi ini kerap menjadi pemicu utama kesulitan ekonomi di masa awal merantau.

Di sisi lain, kepatuhan terhadap aturan daerah perlu diperhatikan. Sejumlah pemerintah daerah mulai memperketat pengawasan terhadap pendatang baru untuk menjaga ketertiban sosial dan stabilitas ekonomi lokal.

Dengan demikian, merantau bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan proses adaptasi ekonomi dan sosial yang membutuhkan kesiapan menyeluruh. Perencanaan yang matang, keterampilan yang relevan, serta pengelolaan keuangan yang baik menjadi faktor utama agar perantau dapat mandiri dan tidak menjadi beban di daerah tujuan.

Oleh: Alief Leksono
Editor: Respati

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.