Jakarta, analisapublik.id-Kehutanan bersama KBRI Bangkok resmi melakukan repatriasi terhadap empat individu orangutan yang menjadi korban perdagangan satwa liar ilegal dari Thailand ke Indonesia. Keempat satwa tersebut terdiri dari tiga individu Orangutan Sumatera dan satu individu Orangutan Tapanuli.
Proses pemulangan ini menjadi langkah nyata pemerintah dalam upaya melindungi dan melestarikan satwa liar yang dilindungi dari ancaman kepunahan.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyatakan rasa prihatinnya atas masih maraknya praktik jual beli satwa liar lintas negara. Beliau menekankan pentingnya sinergi antarlembaga untuk memperketat penjagaan di perbatasan agar kasus serupa tidak terulang kembali. Selain itu, Menhut juga menyoroti pentingnya perbaikan kondisi hutan di Sumatera sebagai habitat asli orangutan yang saat ini masih mengalami berbagai tekanan lingkungan dan bencana.
Keempat orangutan tersebut sebelumnya merupakan hasil sitaan otoritas Thailand pada Januari dan Mei 2025. Saat ditemukan, usia mereka diperkirakan masih di bawah satu bulan dan sempat mendapatkan perawatan di pusat rehabilitasi satwa di Thailand.
Berdasarkan hasil identifikasi fisik dan uji DNA, para ahli menyimpulkan bahwa keempat orangutan ini masih memiliki peluang besar untuk menjalani proses rehabilitasi agar nantinya dapat dilepasliarkan.
Rombongan satwa ini tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Selasa sore dengan pengawasan ketat. Selama perjalanan udara, mereka ditempatkan dalam kandang khusus sesuai standar internasional dan didampingi oleh dokter hewan untuk memantau kondisi kesehatan secara berkala. Dukungan dari maskapai Garuda Indonesia juga turut memperlancar proses pemulangan aset hayati nasional ini.
Sebagai langkah tindak lanjut, seluruh orangutan tersebut akan segera diberangkatkan ke Pusat Rehabilitasi Sumatran Rescue Alliance (SRA) di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Di sana, mereka akan menjalani serangkaian proses pemulihan dan pelatihan di bawah pengawasan para ahli sebelum akhirnya dikembalikan ke hutan Sumatera sebagai rumah asli mereka. ( wa/ar)






