HeadlinePemerintahan

Monumen Ayam Jago Berdiri Megah di Surabaya, Tanda Perjuangan Raden Sawunggaling

424
×

Monumen Ayam Jago Berdiri Megah di Surabaya, Tanda Perjuangan Raden Sawunggaling

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, analisapublik.id – Kota Surabaya kini memiliki ikon sejarah baru di Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri. Sebuah monumen Ayam Jago berdiri tegak sebagai penanda sejarah perjuangan Joko Berek atau Raden Sawunggaling, sosok legendaris di Kota Pahlawan.

Camat Lakarsantri, Yongky Kuspriyanto Wibowo, menjelaskan bahwa monumen ini menjadi penanda cikal bakal berdirinya Kota Surabaya. Menurut cerita sesepuh, Joko Berek adalah putra Adipati Jayengrono, penguasa Kadipaten Surabaya.

“Saat itu Joko Berek diberi ibunya (Dewi Sangkrah) sehelai selendang warna kuning. Katanya, kalau ingin mencari keberadaan ayahnya, agar membawa selendang kuning itu ke Kadipaten Surabaya, tempat kerajaan Jayengrono,” jelas Yongky, Selasa (9/9/2025).

Yongky melanjutkan, di Kadipaten, Joko Berek bertemu dua saudara tirinya, Sawungrana dan Sawungsari, yang meragukan klaimnya sebagai anak adipati. Ia kemudian ditantang untuk mengadu ayam jago dan memanah.

“Joko Berek memenangkan pertarungan dan bertemu dengan Jayengrono. Saat itu juga, Joko Berek memberikan selendang kuning pemberian ibunya kepada Jayengrono,” terangnya.

Namun, perjuangan Joko Berek tidak berhenti di situ. Agar bisa tinggal di Kadipaten, ia diminta membabat habis hutan Wonokromo yang kini menjadi cikal bakal Surabaya.

“Wonokromo itu kan dulunya hutan, karena cikal bakalnya Surabaya zaman dulu itu ya di situ. Kenapa ada Ayam? Karena ketika dia (Joko Berek) mencari ayahnya tadi, selalu membawa ayam dan setiap kali ayam itu diadu selalu menang,” papar Yongky.

Monumen Ayam Jago di Lidah Wetan tidak hanya menjadi pengingat sejarah perjuangan Joko Berek, tetapi juga bagian dari sejarah asal berdirinya Kota Surabaya. Letaknya berada di antara ruas Jalan Raya Menganti, tak jauh dari Makam Raden Sawunggaling.

Yongky mengungkapkan, ide pembangunan monumen ini berasal dari permintaan warga Lidah Wetan kepada Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Warga berharap monumen ini dapat meningkatkan pariwisata di kawasan tersebut.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Lidah Wetan, M. Andi Bocor, menambahkan bahwa monumen ayam jago sebenarnya pernah ada pada zaman kolonial Belanda, namun hilang. Warga kemudian melakukan napak tilas ke Balai Kota Surabaya untuk meminta agar monumen tersebut dibangun kembali.

Monumen yang baru ini memiliki tinggi 7 meter dan melibatkan seniman lokal Surabaya. Pembuatannya memakan waktu sekitar 2-3 minggu.

“Ketika monumen ini nanti dibuat sebuah wisata edukasi anak-anak itu kan juga membutuhkan tempat dan lahan yang tersedia. Karena kearifan lokal itu bisa juga menjadi sarana wisata sejarah, di situ juga kan ada makam Joko Berek Sawunggaling, dan bisa jadi wisata religi juga dan itu bisa disinergikan,” pungkas Andi.

(Res)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.