EDITORIALHeadline

Yudha Sawung Permadi Hadiri Pagelaran Seni Tiban Tadji Budoyo Desa Kates, Dorong Pelestarian Budaya Lokal

2537
×

Yudha Sawung Permadi Hadiri Pagelaran Seni Tiban Tadji Budoyo Desa Kates, Dorong Pelestarian Budaya Lokal

Sebarkan artikel ini

TULUNGAGUNG – analisapublik.id | Pagelaran seni tradisional Tiban kembali digelar oleh komunitas Tadji Budoyo di Desa Kates, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, Minggu (29/03/2026). Kegiatan ini dihadiri Anggota DPRD Tulungagung dari PDI Perjuangan, Yudha Sawung Permadi, sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.

Kegiatan diawali dengan jalan sehat mengelilingi Desa Kates yang diikuti masyarakat setempat. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan senam massal yang melibatkan ibu-ibu warga desa. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan tradisi genduren sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan keberkahan serta terjaganya kerukunan warga.

Dalam kesempatan tersebut, Yudha Sawung Permadi menjelaskan bahwa seni Tiban merupakan tradisi khas masyarakat Tulungagung yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kesenian ini menampilkan pertarungan dua pria menggunakan cambuk dari lidi aren, yang secara historis dilakukan sebagai ritual memohon hujan saat musim kemarau.

Keterangan foto: Pagelaran seni Tiban Tadji Budoyo di Desa Kates, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung menampilkan pertarungan tradisional menggunakan cambuk lidi aren yang sarat nilai budaya, Minggu (29/03/2026). Kesenian ini menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan leluhur sekaligus menarik partisipasi generasi muda.

“Pertarungan dilakukan dengan iringan gamelan, di mana para peserta bertelanjang dada saling mencambuk dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas. Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi sarat makna tentang kesuburan, pengorbanan, dan penghormatan kepada leluhur,” jelas Yudha.

Ia menambahkan, dalam praktiknya, pertarungan Tiban diawasi oleh satu hingga dua wasit yang disebut landang. Para peserta bergantian mencambuk tubuh lawan pada area dada hingga pinggang sebanyak tiga kali dalam setiap babak, yang diawali dengan gerakan tarian atau ancang-ancang sebagai bagian dari ritual.

Meski melibatkan cambukan yang berpotensi menimbulkan luka, nilai sportivitas tetap dijunjung tinggi. Setelah pertarungan, para peserta saling bersalaman dan meminta maaf sebagai simbol persaudaraan.

Menurut Yudha, perkembangan zaman tidak menghilangkan esensi Tiban sebagai tradisi. Justru, kesenian ini kini berkembang menjadi bagian dari ekspresi budaya sekaligus hobi yang diminati masyarakat.

“Kita harus terus nguri-nguri budaya yang diwariskan leluhur agar tetap hidup dan bisa dirasakan oleh generasi penerus,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam kegiatan tersebut. Kehadiran anak-anak muda dinilai menjadi indikator positif keberlanjutan tradisi Tiban di masa mendatang.

“Saya melihat banyak anak muda yang ikut serta. Ini menjadi kebanggaan tersendiri karena menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di hati generasi sekarang,” pungkasnya.

Reporter: Endi Sunaryo

Editor: Mochamad Makruf

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.