SURABAYA – analisapublik.id | Fenomena influencer media sosial terus menguat seiring masifnya penggunaan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Di balik konten inspiratif, hiburan, dan promosi gaya hidup yang ditampilkan, para pakar menilai terdapat dampak signifikan terhadap kesehatan mental penonton, baik dalam bentuk penguatan psikologis maupun tekanan emosional.
Laporan Digital 2024 Global Overview Report yang dirilis We Are Social bersama Meltwater mencatat lebih dari 5 miliar pengguna media sosial secara global. Di Indonesia, penetrasi pengguna media sosial telah melampaui 75 persen populasi. Tingginya intensitas paparan ini membuat konten influencer menjadi bagian dari konsumsi informasi harian masyarakat, khususnya kelompok remaja dan dewasa muda usia 13–24 tahun yang tergolong paling aktif.
Secara positif, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa influencer dapat berperan sebagai agen literasi publik. Studi dalam Journal of Medical Internet Research (2022) menemukan bahwa keterbukaan influencer dalam membahas isu depresi dan kecemasan berkontribusi menurunkan stigma sosial terhadap gangguan kesehatan mental. Pakar dari American Psychological Association menegaskan bahwa narasi body positivity dan self-acceptance yang disampaikan secara autentik mampu meningkatkan rasa percaya diri remaja.
Penelitian dari University of Pennsylvania juga menunjukkan bahwa paparan konsisten terhadap konten edukatif di media sosial dapat meningkatkan self-efficacy atau keyakinan individu dalam mengambil keputusan personal. Dalam konteks ini, influencer tidak hanya menjadi figur hiburan, tetapi juga saluran edukasi informal.
Namun, sisi negatifnya juga mendapat perhatian serius. Penelitian yang dirilis Royal Society for Public Health menunjukkan adanya korelasi antara penggunaan platform visual seperti Instagram dengan meningkatnya kecemasan, depresi, dan gangguan citra tubuh pada remaja. Laporan Pew Research Center (2023) mencatat 46 persen remaja perempuan merasa media sosial membuat mereka kurang percaya diri terhadap penampilan fisik.
Secara teoritis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Social Comparison yang diperkenalkan oleh Leon Festinger, yang menyebutkan bahwa individu cenderung membandingkan diri dengan orang lain untuk mengevaluasi kualitas diri. Dalam ekosistem digital, influencer kerap menjadi standar pembanding tersebut. Riset dari Harvard T.H. Chan School of Public Health mengungkap bahwa paparan berulang terhadap standar hidup dan citra tubuh yang tidak realistis meningkatkan risiko social comparison stress pada kelompok usia muda.
Dari perspektif neuropsikologi, ahli dari Stanford University menjelaskan bahwa sistem notifikasi, jumlah likes, dan komentar memicu pelepasan dopamin di otak. Mekanisme ini menciptakan pola reward yang dapat meningkatkan ketergantungan terhadap media sosial, sehingga memperbesar risiko penggunaan kompulsif.
Para pakar komunikasi digital menilai bahwa dampak influencer tidak bersifat deterministik, melainkan dipengaruhi oleh tingkat literasi media audiens. Individu dengan kemampuan berpikir kritis yang baik cenderung lebih mampu memahami bahwa sebagian besar konten telah melalui proses kurasi visual dan naratif. Oleh karena itu, penguatan literasi digital, transparansi promosi berbayar, serta tanggung jawab etis influencer menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan mental publik.
Secara keseluruhan, data empiris menunjukkan bahwa influencer media sosial memiliki dampak multidimensional terhadap kesehatan mental penonton. Dampak positif muncul ketika konten bersifat edukatif, inklusif, dan realistis. Sebaliknya, tekanan psikologis meningkat ketika konten didominasi pencitraan berlebihan dan standar hidup yang tidak proporsional. Dalam konteks masyarakat digital saat ini, keseimbangan antara kreativitas, regulasi, dan literasi publik menjadi elemen krusial untuk memastikan ruang digital tetap sehat dan produktif.
Oleh: Alief Leksono
Editor: Respati






