MADIUN – analisapublik.id | Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat menangani kerusakan Bendung Kedungrejo yang jebol akibat lonjakan debit air sungai di Desa Wonoayu, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun.
Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti, turun langsung meninjau lokasi pada 1 April 2026 bersama Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) Gatut Bayuadji dan jajaran terkait guna memastikan penanganan darurat berjalan efektif dan terkoordinasi.
Bendung Kedungrejo merupakan infrastruktur sumber daya air yang dibangun sejak tahun 1936 dengan lebar mencapai 19,67 meter dan memiliki cakupan layanan irigasi seluas 1.554 hektare. Infrastruktur ini berperan penting dalam mendukung sistem pengairan pertanian di wilayah Kabupaten Madiun dan sekitarnya.
Kerusakan bendung dipicu oleh tingginya curah hujan yang tercatat sekitar 20,80 mm per hari. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan signifikan debit Sungai Kedungrejo hingga memicu terjadinya penggerusan (scouring) pada bagian fondasi mercu bendung. Selain itu, struktur sayap kiri bendung juga mengalami kerusakan serius yang berdampak langsung pada terganggunya distribusi air irigasi.
Dalam tinjauannya, Diana Kusumastuti menegaskan bahwa penanganan tidak hanya dilakukan oleh Kementerian PU melalui BBWS Bengawan Solo, tetapi juga melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta Pemerintah Kabupaten Madiun.
“Hari ini saya langsung melihat kondisi jebolnya Bendung Kedungrejo. Kami bersama BBWS Bengawan Solo segera melakukan perbaikan. Penanganan ini juga melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Madiun, dengan harapan ketersediaan air tetap terjaga dan aliran irigasi dapat segera pulih,” ujar Diana.
Sebagai langkah awal, penanganan darurat telah dilakukan melalui kolaborasi antara BBWS Bengawan Solo dan Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur. Upaya tersebut meliputi pemasangan 1.200 sandbag dan 300 bronjong untuk memperkuat struktur sementara di titik kerusakan.
Selain itu, alat berat juga dikerahkan untuk mempercepat proses penanganan, masing-masing 1 unit excavator long arm dan 1 unit excavator breaker. Intervensi ini difokuskan untuk menahan laju kerusakan lanjutan sekaligus menstabilkan struktur bendung agar tetap dapat difungsikan secara terbatas.
Langkah cepat ini menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko infrastruktur sumber daya air, khususnya dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi meningkatkan debit sungai secara tiba-tiba.
Pemerintah menargetkan proses penanganan darurat dapat menjaga keberlangsungan suplai air bagi sektor pertanian, sekaligus menjadi dasar evaluasi teknis untuk penanganan permanen bendung ke depan.
Sumber: PU SDA Bengawan Solo | Reporter: Rijen Senario | Editor: Mochamad Makruf






