SURABAYA, analisapublik.id – Balai Kota Surabaya tidak ingin kesetaraan gender hanya berhenti di atas kertas atau jargon politik. Melalui ajang Surabaya Gender Award (SGA) 2025, Pemerintah Kota Surabaya resmi memberikan panggung bagi wilayah-wilayah yang berhasil meruntuhkan tembok diskriminasi di tingkat kecamatan hingga kelurahan.
Puncak penganugerahan yang digelar di Convention Hall Siola, Selasa (23/12/2025), mengukuhkan Kecamatan Genteng sebagai The Best Kecamatan Responsif Gender 2025. Wilayah di jantung kota ini dinilai paling konsisten dalam menenun kebijakan inklusif yang ramah bagi perempuan, anak-anak, hingga kelompok disabilitas.
Bukan Sekadar Mengejar Trofi
Mewakili Wali Kota Eri Cahyadi, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Bisukma Kurniawati, menegaskan bahwa penghargaan ini adalah pengingat keras bagi para birokrat di tingkat akar rumput. Menurutnya, implementasi jauh lebih berharga daripada sekadar memajang piala di lemari kantor.
“Mendapatkan penghargaan itu mungkin tidak mudah, tetapi mempertahankan dan mengimplementasikannya jauh lebih sulit,” ujar Bisukma dalam sambutannya.
Ia menekankan bahwa kesadaran gender harus menjadi “napas” dalam setiap pelayanan publik sehari-hari. Bisukma pun melempar tantangan bagi 31 kecamatan di Surabaya agar tahun depan mampu mencapai standar pelayanan yang sama. “Harapannya, tahun depan seluruh kecamatan bisa menjadi juara semua dalam hal pelayanan masyarakat yang responsif gender.”
Advokasi Lewat Fragmen Suroboyoan
Ada yang berbeda dalam penyelenggaraan tahun ini. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya mencoba mendobrak kekakuan birokrasi dengan pendekatan budaya.
Sekretaris DP3APPKB, Ike Inayumiki, mengungkapkan bahwa penilaian tidak lagi melulu soal tumpukan dokumen administratif. Panitia menggelar lomba Fragmen Suroboyoan dengan tema Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (KRPPA).
“Ini adalah bentuk advokasi agar masyarakat lebih mudah memahami konsep keadilan gender melalui kegiatan sehari-hari yang dekat dengan budaya mereka,” jelas Ike.
Program ambisius ini melibatkan total 31 kecamatan dan 153 kelurahan. Selain kompetisi antarwilayah, SGA 2025 juga memberikan kategori Gender Champion bagi sosok-sosok inspiratif yang menjadi motor penggerak kesetaraan di lingkungan mereka masing-masing.
Iklim Inklusi dan Dukungan Swasta
Secara legalitas, ajang ini merupakan turunan dari Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 dan Perda Kota Surabaya No. 4 Tahun 2019. Tujuannya jelas: memperkuat indikator Anugerah Parahita Ekapraya (APE) serta membangun iklim pembangunan yang inklusif secara sosial (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion – GEDSI).
Langkah Pemkot Surabaya ini juga mendapat sokongan dari sektor swasta melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR). Sejumlah organisasi dan perusahaan seperti Rotary, Wahana Visi Indonesia, hingga PDAM turun tangan mendukung pemberian apresiasi bagi para pemenang.
Selain Kecamatan Genteng yang menjadi juara umum, penghargaan juga diberikan kepada perwakilan terbaik dari lima wilayah (Utara, Pusat, Selatan, Timur, dan Barat). Sementara itu, Lomba Fragmen Suroboyoan terbagi ke dalam enam kategori juara yang mencerminkan kreativitas warga Surabaya dalam mengampanyekan kesetaraan.
Dengan berakhirnya ajang ini, Surabaya kembali menegaskan posisinya sebagai kota yang mencoba memastikan tidak ada satu pun kelompok—terutama kaum marginal—yang tertinggal dalam gerbong pembangunan. (Res)






