EDITORIALHeadline

One Way Nasional Diberlakukan di Tol Trans Jawa, Pemerintah Antisipasi Puncak Mudik Lebaran 2026

4898
×

One Way Nasional Diberlakukan di Tol Trans Jawa, Pemerintah Antisipasi Puncak Mudik Lebaran 2026

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – analisapublik.id | Pemerintah bersama Kepolisian Republik Indonesia dan operator jalan tol resmi memberlakukan skema One Way Nasional di jalur utama Tol Trans Jawa dalam rangka mengantisipasi lonjakan arus mudik Lebaran 1447 Hijriah/2026. Kebijakan tersebut diterapkan menjelang fase krusial pergerakan kendaraan yang diproyeksikan mencapai puncaknya pada 18 Maret 2026.

Penerapan rekayasa lalu lintas ini merupakan tindak lanjut arahan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, serta hasil koordinasi dengan Direktur Utama Subakti Syukur selaku operator jalan tol.

Berdasarkan hasil traffic counting dan pemantauan lapangan, terjadi peningkatan signifikan volume kendaraan pada pukul 12.00 WIB. Data tersebut menjadi dasar pengambilan keputusan untuk menerapkan intervensi cepat melalui rekayasa lalu lintas berskala nasional sesuai mekanisme Surat Keputusan Bersama (SKB) lintas instansi.

Tahap pertama One Way Nasional diberlakukan pada 17–18 Maret 2026 dari Kilometer 70 hingga Kilometer 263 Tol Trans Jawa. Rentang tersebut merupakan koridor utama pergerakan kendaraan dari arah barat menuju wilayah timur Pulau Jawa yang mengalami kenaikan arus signifikan selama periode mudik.

Sebagai langkah pengendalian tambahan, skema contra flow diterapkan di Kilometer 55 hingga Kilometer 70 guna menjaga distribusi kendaraan tetap seimbang serta mencegah penumpukan di simpul tertentu. Rekayasa ini menjadi bagian dari manajemen lalu lintas terpadu yang dirancang berbasis pemantauan real time.

Aparat melakukan evaluasi situasional secara berkala sepanjang hari. Jika pada malam hari terjadi lonjakan tambahan, koordinasi dengan operator jalan tol akan segera dilakukan untuk menyesuaikan pola rekayasa. Opsi perpanjangan maupun modifikasi skema tetap terbuka bergantung pada dinamika lapangan.

Selama lima hari pelaksanaan Operasi Ketupat 2026, kondisi umum arus mudik dilaporkan terkendali. Tidak terdapat peristiwa menonjol yang berdampak besar terhadap stabilitas lalu lintas nasional. Seluruh skenario manajemen yang telah disusun sebelumnya dijalankan sesuai prosedur.

Dari aspek keselamatan, data sementara menunjukkan tren positif. Angka kecelakaan lalu lintas tercatat menurun sebesar 15,50 persen dibanding periode sebelumnya, sementara penurunan fatalitas korban mencapai 38,9 persen. Capaian tersebut dinilai sebagai dampak dari pengaturan lalu lintas yang lebih disiplin, pengawasan petugas di lapangan, serta pengendalian kecepatan kendaraan di jalur tol dan arteri.

Puncak arus mudik diproyeksikan terjadi pada 18 Maret 2026. Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, seluruh unsur terkait telah menyiapkan skema operasional dan play out secara komprehensif. Koordinasi lintas kementerian dan lembaga terus dilakukan guna memastikan setiap keputusan dapat diambil secara cepat, terukur, dan berbasis data.

Operator jalan tol juga diminta menyiapkan dukungan teknis, termasuk optimalisasi pemantauan CCTV, pengaturan kapasitas rest area, serta pengendalian antrean kendaraan agar tidak menimbulkan hambatan tambahan.

Dengan pendekatan kolaboratif antara Polri, Kementerian Perhubungan, dan pengelola jalan tol, arus mudik Lebaran 2026 ditargetkan tetap terkendali hingga akhir rangkaian pengamanan. Fokus kebijakan tidak hanya pada kelancaran distribusi kendaraan, tetapi juga pada keselamatan pengguna jalan selama periode mobilitas tertinggi tahunan tersebut.

Sumber: Divisi Humas Polri
Reporter: Respati
Editor: Mochamad Makruf

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.