SURABAYA – analisapublik.id – Kenaikan harga bahan baku, khususnya plastik dan sejumlah barang penunjang produksi, mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah. Fenomena ini terjadi di tengah kebijakan stabilisasi harga bahan bakar minyak (BBM) yang diterapkan pemerintah sejak awal 2026.
Pelaku UMKM di sektor makanan, minuman, dan perdagangan eceran melaporkan kenaikan harga plastik kemasan seperti kantong, cup, hingga standing pouch dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini berkisar antara 5 hingga 15 persen, tergantung jenis dan volume pembelian. Selain plastik, harga bahan penunjang lain seperti kardus, label kemasan, hingga biaya distribusi juga ikut mengalami penyesuaian, sehingga berdampak langsung pada struktur biaya produksi.
Secara struktural, plastik merupakan produk turunan petrokimia yang sangat bergantung pada harga energi, khususnya minyak dan gas. Ketika pemerintah menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan pembatasan subsidi dan pengendalian distribusi, terdapat implikasi lanjutan pada sektor industri hulu, termasuk petrokimia. Pengamat energi dari Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, menjelaskan bahwa stabilitas harga BBM di tingkat konsumen tidak selalu mencerminkan kondisi biaya produksi di sektor industri. Industri petrokimia tetap mengikuti dinamika harga global, terutama minyak mentah, sehingga tekanan biaya akan berdampak pada produk turunan seperti plastik.
Di sisi lain, ekonom dari Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, menilai kenaikan harga bahan baku UMKM merupakan konsekuensi dari penyesuaian rantai pasok yang lebih luas. Stabilitas BBM memang bertujuan menjaga daya beli masyarakat, namun tanpa kebijakan penyeimbang di sektor industri, kondisi ini dapat menimbulkan tekanan biaya di level pelaku usaha kecil. UMKM dinilai berada pada posisi paling rentan karena memiliki keterbatasan dalam menentukan harga terhadap pemasok.
Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM menghadapi dilema antara mempertahankan harga jual atau menyesuaikan dengan kenaikan biaya produksi. Sebagian pelaku usaha memilih menekan margin keuntungan, sementara lainnya mulai menaikkan harga secara bertahap untuk menjaga keberlangsungan usaha. Kenaikan harga plastik juga berdampak signifikan pada sektor kuliner dan retail yang sangat bergantung pada kemasan sekali pakai.
Ekonom dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menekankan pentingnya kebijakan penyeimbang agar dampak kenaikan biaya tidak semakin menekan UMKM. Menurutnya, stabilitas harga BBM perlu diiringi dengan intervensi di sektor riil, baik melalui insentif industri bahan baku maupun dukungan langsung kepada pelaku usaha kecil.
Fenomena kenaikan harga plastik dan bahan penunjang ini menunjukkan adanya keterkaitan erat antara kebijakan energi dan dinamika ekonomi mikro. Tanpa langkah mitigasi yang tepat, tekanan biaya produksi berpotensi menggerus daya saing UMKM yang selama ini menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dok: Analisapublik.id
Oleh: Alief Leksono






