EDITORIALHeadlineOpini

Jangan Habis di Lebaran: Cara Cerdas Mengelola THR agar Justru Menguntungkan Saat Orang Lain Foya-Foya

3867
×

Jangan Habis di Lebaran: Cara Cerdas Mengelola THR agar Justru Menguntungkan Saat Orang Lain Foya-Foya

Sebarkan artikel ini

SIDOARJO – analisapublik.id | Tunjangan Hari Raya (THR) setiap tahun selalu datang dengan dua wajah: sebagai peluang memperkuat kondisi finansial, sekaligus jebakan konsumsi sesaat. Data menunjukkan, kecenderungan masyarakat Indonesia masih menempatkan THR sebagai “uang tambahan” yang cepat dibelanjakan, bukan sebagai instrumen pengelolaan keuangan jangka menengah.

Survei nasional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022 mencatat tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 49,68 persen. Artinya, lebih dari separuh masyarakat belum memiliki pemahaman optimal dalam mengelola keuangan, termasuk dalam memanfaatkan dana musiman seperti THR. Dalam konteks ini, fenomena “THR habis dalam hitungan hari” bukan sekadar perilaku individu, tetapi bagian dari persoalan struktural literasi finansial.

Data perilaku konsumsi yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan bahwa periode Ramadan hingga Idulfitri selalu diikuti lonjakan konsumsi rumah tangga. Dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi rumah tangga berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan puncaknya terjadi saat Lebaran. Kenaikan ini didorong oleh belanja kebutuhan pokok, sandang, hingga gaya hidup, yang pada akhirnya memperlihatkan bahwa mayoritas alokasi THR terserap ke sektor konsumtif.

Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui pendekatan ekonomi perilaku. Konsep mental accounting menunjukkan bahwa masyarakat cenderung memperlakukan uang berdasarkan sumbernya. THR dianggap sebagai “uang bonus”, sehingga secara psikologis lebih mudah dihabiskan tanpa perencanaan matang. Riset global dari McKinsey & Company juga menguatkan bahwa lonjakan konsumsi musiman dipicu oleh faktor emosional dan tekanan sosial, bukan semata kebutuhan riil.

Dalam praktik pengelolaan keuangan, pendekatan berbasis tujuan (goal-based budgeting) yang direkomendasikan Financial Planning Standards Board menjadi salah satu metode paling rasional untuk mengelola pendapatan tidak rutin seperti THR. Skema pembagian yang proporsional—40 persen untuk kebutuhan Lebaran dan kewajiban sosial, 30 persen untuk tabungan dan dana darurat, 20 persen untuk investasi atau aset produktif, serta 10 persen untuk konsumsi fleksibel—memberikan keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan keberlanjutan finansial.

Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan tren peningkatan jumlah investor ritel dalam beberapa tahun terakhir. Namun demikian, momentum THR belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pintu masuk investasi. Padahal, secara empiris, alokasi sebagian kecil dana ke instrumen seperti reksa dana atau emas memiliki potensi menjaga nilai aset dibandingkan habis dalam konsumsi jangka pendek. Individu yang disiplin mengalokasikan sebagian THR ke aset produktif cenderung memiliki kondisi finansial yang lebih stabil setelah Lebaran.

Di sisi lain, tekanan sosial tetap menjadi faktor dominan dalam pemborosan THR. Standar “Lebaran ideal” yang terbentuk di masyarakat—mulai dari tuntutan penampilan hingga konsumsi berlebih—mendorong individu untuk berbelanja di luar kapasitas. Dalam perspektif ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai demonstration effect, di mana perilaku konsumsi dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Tanpa kontrol, keputusan finansial menjadi tidak rasional dan lebih didorong oleh dorongan emosional.

Pada akhirnya, pengelolaan THR mencerminkan pola pikir finansial seseorang. THR bukan sekadar tambahan pendapatan, tetapi momentum strategis untuk memperbaiki kondisi ekonomi pribadi. Fakta menunjukkan, bukan besarnya nominal yang menentukan, melainkan bagaimana uang tersebut dikelola.

Lebaran tetap dapat dirayakan dengan layak tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan. Di tengah arus konsumtif yang masif, justru terdapat peluang bagi mereka yang mampu berpikir lebih strategis. Karena pada akhirnya, yang membedakan bukan siapa yang paling banyak membelanjakan THR, melainkan siapa yang mampu mengubahnya menjadi nilai yang terus tumbuh setelah Lebaran usai.

Editor: Alief Leksono

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.