Kudus | analisapublik.id — Sebanyak 47 siswa SMAN 2 Kudus masih menjalani perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan setelah mengalami gangguan kesehatan yang diduga terjadi usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (27/1/2026). Berdasarkan data hingga Jumat (30/1/2026), total 109 siswa sempat mendapatkan penanganan medis, baik rawat jalan maupun rawat inap, di rumah sakit milik pemerintah daerah dan swasta di wilayah Kudus.
Pemerintah Daerah Pastikan Kondisi Siswa Stabil
Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton, menyatakan kondisi siswa yang masih dirawat dalam keadaan stabil. Pemerintah Kabupaten Kudus, kata dia, langsung mengambil langkah evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG di sekolah.
“Sebagian besar siswa sudah membaik. Yang masih dirawat kondisinya stabil. Kami melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Kronologi dan Gejala yang Dialami Siswa
Berdasarkan keterangan pihak sekolah, para siswa mengonsumsi menu MBG pada Rabu siang (27/1/2026). Keluhan kesehatan mulai dirasakan pada malam hari hingga keesokan harinya.
Gejala yang muncul meliputi mual, diare, pusing, lemas, dan nyeri perut. Waka Humas SMAN 2 Kudus, Dwiyana, menjelaskan bahwa pendataan internal sekolah mencatat 109 siswa sempat dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Penanganan Medis di Rumah Sakit Rujukan
Salah satu rumah sakit rujukan, RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, menangani puluhan siswa dengan keluhan serupa. Sebagian siswa telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik, sementara sisanya masih menjalani perawatan lanjutan.
Evaluasi SPPG dan Sistem Distribusi MBG
Sebagai langkah lanjutan, Pemerintah Kabupaten Kudus mengumpulkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Kudus. Evaluasi difokuskan pada standar kebersihan dapur, proses pengolahan makanan, serta sistem distribusi menu ke sekolah.
Selain itu, setiap SPPG diminta mendokumentasikan menu harian dalam bentuk video sebagai bagian dari pengawasan tambahan.
“Kami menekankan kembali aspek higienitas, waktu pengolahan, dan distribusi makanan. Dokumentasi menu harian menjadi bagian dari pengawasan,” kata Bellinda.
Penyebab Masih Menunggu Hasil Uji Laboratorium
Hingga saat ini, penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa belum dapat dipastikan. Pemerintah daerah masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi siswa.
“Hasil pemeriksaan laboratorium belum keluar. Kami menunggu kepastian untuk menentukan langkah lanjutan,” ujar Bellinda.
Pemerintah daerah dan pihak sekolah menegaskan bahwa hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar pembenahan tata kelola pelaksanaan program MBG ke depan.
Reporter : Saiful Anwar
IT : Respati
Editor : Abdul Rasyid, S.Ag.






