EDITORIALHeadlineOpini

Fenomena Sewa iPhone Saat Ramadhan: Antara Kebutuhan Digital dan Gaya Hidup Simbolik

484
×

Fenomena Sewa iPhone Saat Ramadhan: Antara Kebutuhan Digital dan Gaya Hidup Simbolik

Sebarkan artikel ini

SURABAYA – analisapublik.id | Fenomena penyewaan iPhone selama bulan Ramadhan hingga menjelang Lebaran 2026 kembali menjadi sorotan di sejumlah kota besar di Indonesia. Lonjakan permintaan perangkat premium tersebut memunculkan pertanyaan publik: apakah praktik ini didorong oleh kebutuhan fungsional atau sekadar simbol status sosial.

Berdasarkan pantauan di lapangan dan data dari pelaku usaha rental gadget di wilayah urban seperti Surabaya, Jakarta, dan Bandung, permintaan sewa iPhone meningkat signifikan pada periode H-10 hingga H+7 Lebaran. Tarif penyewaan bervariasi, mulai dari Rp100.000 hingga Rp300.000 per hari, dengan tipe yang paling diminati adalah iPhone seri 11 hingga iPhone 15.

Secara tren digital, peningkatan minat juga tercermin dari lonjakan pencarian kata kunci terkait “sewa iPhone Lebaran” di mesin pencari, yang menunjukkan pola berulang setiap tahun menjelang Idul Fitri.
Dari sisi akademik, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori konsumsi mencolok (conspicuous consumption) yang dikemukakan oleh ekonom Thorstein Veblen. Dalam teorinya, konsumsi tidak selalu didasarkan pada kebutuhan, melainkan sebagai sarana menunjukkan status sosial kepada lingkungan.

Hal ini diperkuat oleh pandangan sosiolog Jean Baudrillard yang menyebut bahwa dalam masyarakat modern, konsumsi telah bergeser menjadi simbol makna, bukan semata fungsi. Produk seperti iPhone tidak hanya dipandang sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai representasi gaya hidup dan identitas digital.

Di sisi lain, faktor media sosial turut memperkuat fenomena ini. Platform seperti Instagram dan TikTok menjadi ruang utama bagi masyarakat untuk menampilkan citra diri, terutama pada momen Lebaran yang identik dengan aktivitas silaturahmi dan dokumentasi visual.

Dalam perspektif psikologi sosial, konsep impression management yang diperkenalkan oleh Erving Goffman menjelaskan bahwa individu cenderung mengelola penampilan mereka di hadapan publik, baik secara langsung maupun digital. Penyewaan iPhone dalam konteks ini menjadi salah satu instrumen untuk membangun citra tersebut.

Meski demikian, tidak seluruh praktik penyewaan didorong oleh motif simbolik. Sejumlah pengguna memanfaatkan perangkat tersebut untuk kebutuhan produktif, seperti pembuatan konten digital, dokumentasi keluarga, hingga keperluan pekerjaan berbasis visual.

Namun, indikator di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan bersifat jangka pendek, pemilihan tipe premium, serta dominasi penggunaan untuk kebutuhan visual di media sosial mengarah pada pola konsumsi simbolik.

Dari sisi ekonomi dan sosial, fenomena ini juga menimbulkan sejumlah catatan. Data literasi keuangan dari otoritas terkait menunjukkan bahwa perilaku konsumtif cenderung meningkat pada momen hari besar keagamaan. Kondisi ini berpotensi memicu gaya hidup semu serta tekanan sosial, khususnya di kalangan generasi muda.

Dengan demikian, fenomena sewa iPhone saat Ramadhan tidak dapat dilihat semata sebagai aktivitas ekonomi musiman, melainkan sebagai refleksi perubahan perilaku konsumsi masyarakat di era digital. Di satu sisi, terdapat kebutuhan fungsional yang nyata, namun di sisi lain, praktik ini juga mencerminkan dorongan kuat terhadap pengakuan sosial dan representasi status di ruang publik.

Oleh: Ibnu Aji Sesario
Editor: Respati480

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.