SEMARANG — analisapublik.id | Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian PPN/Bappenas, Abdul Malik Sadat Idris, melakukan peninjauan langsung terhadap proyek pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1 serta penanganan banjir rob di kawasan Kaligawe dan Sayung, Jawa Tengah, pada Selasa (7/4/2026).
Kunjungan ini bertujuan memastikan progres pembangunan berjalan sesuai rencana sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan infrastruktur yang tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga adaptif terhadap tantangan lingkungan pesisir.
Dalam peninjauan tersebut, Abdul Malik menegaskan bahwa proyek Tol Semarang–Demak memiliki fungsi strategis yang melampaui sekadar konektivitas transportasi. Proyek ini diposisikan sebagai role model tanggul laut (coastal defense) di Pantai Utara (Pantura) Jawa yang mengintegrasikan fungsi jalan tol dengan perlindungan kawasan pesisir dari ancaman banjir rob.
“Proyek ini bukan hanya jalan tol, tetapi juga menjadi solusi terpadu antara konektivitas dan perlindungan wilayah pesisir,” demikian disampaikan dalam keterangan yang dihimpun dari materi resmi Direktorat Jenderal Bina Marga.
Secara teknis, peninjauan difokuskan pada Tol Semarang–Demak Seksi 1 yang menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian banjir kawasan pesisir utara Jawa. Selain itu, perhatian juga diarahkan pada titik-titik rawan genangan di wilayah Kaligawe, Kota Semarang, hingga Sayung, Kabupaten Demak, yang selama ini menjadi kawasan terdampak rob secara berkala.
Dalam evaluasinya, Bappenas menekankan perlunya penguatan kajian terhadap desain dan metode konstruksi untuk mendukung rencana Giant Seawall Project Pantai Utara Jawa. Kajian ini dinilai krusial mengingat kondisi geologis dan karakteristik tanah di wilayah Pantura yang bervariasi, sehingga membutuhkan pendekatan teknis yang spesifik dan adaptif.
Selain itu, optimalisasi infrastruktur pendukung seperti kolam retensi juga menjadi perhatian. Infrastruktur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, Abdul Malik menegaskan bahwa keberhasilan penanganan rob tidak dapat berdiri sendiri pada pembangunan jalan semata. Ia menekankan pentingnya integrasi antara pembangunan infrastruktur jalan dengan sistem pengelolaan sumber daya air (SDA).
“Penanganan di Jalur Pantura Kaligawe, Semarang, dan Sayung harus terintegrasi dengan pengelolaan sumber daya air agar penanganan genangan lebih efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Pendekatan integratif ini dinilai menjadi kunci dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang selama ini memperparah kondisi banjir rob di wilayah pesisir utara Jawa.
Dengan konsep pembangunan yang menggabungkan fungsi transportasi dan mitigasi bencana, proyek Tol Semarang–Demak diharapkan menjadi model nasional dalam pengembangan infrastruktur pesisir yang berkelanjutan.
Sumber: PU Jalan Jateng-DIY
Reporter: Bambang Setiawan, SH
Editor: H. Muhajir Wahyu Ramadhan







