PONOROGO, ANALISA PUBLIK — Pendidikan anak tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Di tengah digitalisasi, kecerdasan buatan, dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi, rumah tetap menjadi tempat pertama dalam membentuk karakter, disiplin, dan masa depan anak.
Namun, ada ironi yang semakin sering terlihat.
Anak dituntut berprestasi, masuk sekolah favorit, rajin membaca, dan membatasi penggunaan telepon genggam. Sementara itu, sebagian orang tua justru menghabiskan banyak waktu dengan media sosial.
Anak diminta berhenti bermain HP, tetapi ayah sibuk scroll TikTok. Anak diminta belajar, sementara orang tua terus menatap WhatsApp dan media sosial.
Ketika nilai menurun, anak kemudian dianggap malas.
Pertanyaannya, apakah persoalan selalu berada pada anak?
Keinginan memberikan pendidikan terbaik tentu wajar. Namun, sekolah favorit jangan sampai berubah menjadi simbol gengsi keluarga.
Setiap anak memiliki kemampuan berbeda. Ada yang unggul secara akademik, olahraga, seni, teknologi, komunikasi, maupun keterampilan vokasi. Karena itu, pilihan sekolah seharusnya mempertimbangkan kemampuan, minat, kebutuhan, dan karakter anak, bukan sekadar memenuhi ambisi orang tua.
Hal serupa berlaku terhadap hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) maupun penilaian lainnya.
Nilai memang penting, tetapi angka bukan satu-satunya ukuran masa depan anak.
Ketika nilai turun, daripada langsung bertanya, “Kenapa nilaimu jelek?”, orang tua bisa bertanya, “Apa yang membuat kamu kesulitan?” atau “Bagian mana yang belum kamu pahami?”
Kalimat sederhana seperti itu dapat membuka ruang komunikasi yang lebih sehat.
Orang tua juga perlu bercermin terhadap kebiasaan digital di rumah.
Sulit meminta anak mengurangi waktu layar jika orang tua sendiri tidak mampu meletakkan telepon genggam ketika bersama keluarga. Sulit meminta anak rajin membaca apabila mereka setiap hari melihat orang tuanya terus menggulir media sosial.
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat.
Keteladanan jauh lebih kuat daripada perintah.
Tiga puluh menit tanpa HP untuk berbicara dengan anak terkadang lebih berharga daripada menambah jadwal les. Dari percakapan itu, orang tua bisa mengetahui kesulitan belajar, tekanan pertemanan, rasa takut menghadapi ujian, atau persoalan yang selama ini dipendam anak.
Sekolah favorit boleh diperjuangkan. Prestasi boleh dikejar. Nilai tinggi boleh menjadi target.
Namun, semuanya jangan sampai dibayar dengan hilangnya komunikasi di dalam keluarga.
Jangan sampai anak mendapat sekolah terbaik, tetapi merasa sendirian di rumah.
Sebelum bertanya apakah anak berhasil masuk sekolah favorit, orang tua mungkin perlu bertanya kepada dirinya sendiri:
“Sudahkah saya benar-benar hadir dalam proses pendidikan anak saya?”
Jangan hanya scroll TikTok.
Sesekali, scroll juga kehidupan anak kita.
Reporter: Hadi S
Editor: Rijen Senario






