Infrastruktur

217 Hektare Sawah di Lamongan Masih Terdampak Kekeringan

1748
×

217 Hektare Sawah di Lamongan Masih Terdampak Kekeringan

Sebarkan artikel ini
Pengoptimalan pengairan sawah Lamongan untuk mencegah kekeringan dan ancaman gagal panen.

LAMONGAN, ANALISAPUBLIK.ID — Ancaman kekeringan akibat fenomena El Niño masih membayangi kawasan pertanian di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Dari total 3.450 hektare lahan padi yang sebelumnya terancam kekurangan air, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat masih terdapat sekitar 217 hektare sawah yang membutuhkan pengairan darurat.

Lahan yang masih membutuhkan penanganan tersebut didominasi tanaman padi berusia sekitar 40 hingga 45 hari setelah tanam. Pengawalan pengairan terutama dilakukan di Kecamatan Turi dan Sugio yang menjadi wilayah dengan kebutuhan pasokan air cukup mendesak.

Pada fase pertumbuhan tersebut, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk menjaga tanaman tetap berkembang dan menghindari risiko penurunan produksi hingga puso.

Meski ancaman kekeringan belum sepenuhnya teratasi, upaya penanganan lintas instansi telah berhasil mengalirkan air ke sebagian besar lahan terdampak. Dari total 3.450 hektare, sekitar 3.233 hektare atau 93 persen area persawahan di tujuh kecamatan telah mendapatkan penanganan.

Intervensi dilakukan melalui pompanisasi secara masif serta normalisasi saluran irigasi primer maupun sekunder. Langkah tersebut menjadi bagian dari respons cepat untuk mempertahankan pasokan air ke kawasan pertanian yang mengalami tekanan akibat kemarau.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Arief Cahyono, mengatakan penanganan terhadap sisa 217 hektare lahan menjadi fokus pengawalan tim di lapangan.

“Sisa lahan terdampak, khususnya di Kecamatan Turi dan Sugio, terus dikawal ketat oleh tim gabungan di lapangan agar distribusi air masuk secara optimal,” kata Arief.

Upaya penyelamatan lahan pertanian di Lamongan melibatkan sejumlah instansi. Penanganan dilakukan bersama Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Dinas PU SDA Jawa Timur, Dinas PU SDA Kabupaten Lamongan, serta jajaran Dinas Pertanian setempat.

Koordinasi pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat untuk memastikan distribusi air menjangkau lahan yang masih rawan kekeringan.

Penanganan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai respons darurat menghadapi kemarau, tetapi juga menjadi bagian dari mitigasi jangka panjang menghadapi ketidakpastian iklim.

Dengan optimalisasi pompanisasi, jaringan irigasi, dan pengawasan distribusi air, pemerintah berupaya mempertahankan produktivitas sawah sekaligus menjaga Lamongan sebagai salah satu kawasan penyangga produksi pangan Jawa Timur.

Langkah mitigasi dinilai semakin penting agar perubahan pola musim tidak mengganggu masa tanam, produktivitas petani, maupun stabilitas produksi beras daerah.

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.