SURABAYA, analisapublik.id – Di penghujung 2025, Pemerintah Kota Surabaya mengirimkan sinyal kuat: perang melawan banjir belum usai, namun kemenangan-kemenangan kecil mulai tampak. Di bawah komando Wali Kota Eri Cahyadi, Kota Pahlawan menutup tahun dengan catatan masif pada pembangunan infrastruktur dasar, sebuah prioritas yang tak hanya mengejar angka teknis, tetapi juga kehadiran negara di depan pintu rumah warga.
“Kami ingin masyarakat semakin merasakan kehadiran pemerintah melalui anggaran yang kita kucurkan untuk menekan titik-titik banjir,” ujar Eri Cahyadi di Surabaya, Rabu (31/12/2025).
Trisula Infrastruktur: Pompa, Drainase, dan Aspal
Sepanjang 2025, Pemkot Surabaya tak main-main dalam urusan “otot” kota. Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak lima rumah pompa baru telah berdiri tegak di lokasi-lokasi krusial seperti Dukuh Menanggal, Karah Agung, Ketintang Madya, Margorejo Indah, hingga Amir Mahmud.
Rumah pompa ini bukan sekadar bangunan teknis. Dengan kapasitas masing-masing 3,5 meter kubik per detik, fasilitas ini menjadi tulang punggung untuk melawan hukum gravitasi. “Kalau hanya mengandalkan elevasi alami, air surutnya lama. Rumah pompa adalah kunci mempercepat air menuju laut,” jelas Eri.
Tak hanya di hilir, perbaikan di hulu dan jalur distribusi air pun dipacu. Sebanyak 233 titik drainase baru sepanjang 56,36 kilometer telah rampung dikerjakan. Proyek ini mencakup penggantian material lama berbahan batu kali menjadi box culvert raksasa guna meningkatkan daya tampung. Hasilnya? Pemkot mengklaim jumlah titik genangan di Surabaya menyusut hingga 38 lokasi.
Melawan Sampah dan Batas Tanah
Namun, teknologi canggih tak ada artinya tanpa disiplin sosial. Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Syamsul Hariadi, menyoroti musuh klasik infrastruktur: sampah yang menyumbat screen pompa.
“Kami siagakan satgas 24 jam. Saat hujan, fokus mereka adalah membersihkan sampah di penyaring pompa agar aliran tidak terhambat,” kata Syamsul. Saat ini, Surabaya telah membetengi dirinya dengan total 81 rumah pompa yang tersebar di seantero kota.
Selain sampah, Eri Cahyadi juga melontarkan teguran keras terkait pelanggaran batas tanah. Dalam inspeksi lapangannya, ia masih menemukan saluran air yang “hilang” tertutup bangunan permanen warga. Ia meminta para camat dan lurah bertindak tegas mengedukasi warga agar memundurkan bangunan sesuai surat tanah yang sah.
Meski progres terlihat nyata, DPRD Kota Surabaya mengingatkan bahwa pekerjaan rumah ini masih panjang. Wakil Ketua DPRD Surabaya, Fathoni, menilai letak geografis Surabaya yang berada di cekungan serta ancaman air kiriman dari dataran tinggi dan pasang laut (rob) menjadi tantangan abadi.
“Program pengendalian banjir ini sudah terbukti efektivitasnya meski belum 100 persen. Kami telah menyusun skema pembiayaan hingga 2027 agar proyek ini tidak mandek karena urusan anggaran,” ungkap Fathoni.
Untuk tahun 2026, Pemkot Surabaya telah membidik kawasan Sukomanunggal sebagai prioritas berikutnya. Harapannya, integrasi antara u-ditch di permukiman dan saluran primer yang terkoneksi rumah pompa akan rampung sepenuhnya pada 2028, menjadikan Surabaya kota yang tak lagi berkarib dengan genangan setiap kali langit mendung. (Res)






