Gunungkidul | abahtindik.com – Pembangunan Jalan Kretek–Girijati di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memasuki fase akhir. Hingga Desember 2025, progres fisik proyek jalur selatan ini telah mencapai lebih dari 97 persen dan dinyatakan siap difungsikan secara bertahap menjelang akhir tahun.
Sisa pekerjaan yang masih berlangsung meliputi penyempurnaan marka jalan, pemasangan rambu lalu lintas, serta penataan lansekap di sejumlah segmen. Seluruh pekerjaan utama konstruksi telah dinyatakan rampung dan proyek kini memasuki masa pemeliharaan awal sebelum pengoperasian penuh.
Proyek ini dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk sebagai kontraktor pelaksana. Dari sisi kelembagaan, kegiatan berada di bawah tanggung jawab Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Ridwan Subarkah, yang secara struktural berada di bawah Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional DIY dan dikoordinasikan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Tengah–DIY.
Nilai proyek Jalan Kretek–Girijati mencapai sekitar Rp250 miliar dengan skema pembiayaan gabungan. Pendanaan utama berasal dari APBD Daerah Istimewa Yogyakarta, diperkuat hibah internasional dari Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk penerapan teknologi stabilisasi lereng dan sistem pemantauan geoteknik, serta dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari WIKA.
Secara teknis, proyek ini menghadapi tantangan besar karena melintasi kawasan perbukitan karst Gunungkidul yang memiliki karakter geologi kompleks dan tingkat kerawanan longsor relatif tinggi. Kondisi tersebut menuntut penerapan metode konstruksi khusus, mulai dari stabilisasi lereng, pembangunan sistem drainase adaptif, hingga pengamanan struktur badan jalan demi menjamin keselamatan jangka panjang.
Berdasarkan data pelaksanaan, pekerjaan tanah telah mencapai 100 persen, pembangunan 38 titik bore pile telah selesai, dan perkerasan jalan hampir seluruhnya rampung. Kontrak pekerjaan sendiri dimulai pada Maret 2024 dengan target penyelesaian Oktober 2025.
Dari sisi manfaat, Jalan Kretek–Girijati diproyeksikan memberikan dampak signifikan terhadap konektivitas wilayah selatan DIY. Waktu tempuh yang sebelumnya sekitar 60 menit kini dapat dipangkas menjadi rata-rata 25 menit. Selain memperlancar mobilitas warga, jalur ini diperkirakan meningkatkan kunjungan wisata ke kawasan pesisir selatan Gunungkidul hingga 40 persen, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Hibah JICA tidak hanya berfokus pada pendanaan, tetapi juga mencakup alih teknologi ramah lingkungan yang disesuaikan dengan karakter kawasan karst, termasuk pemasangan sensor pemantauan lereng secara real-time. Sementara itu, program CSR WIKA diarahkan pada kegiatan penghijauan, pembangunan embung, serta pelatihan berbasis ekowisata bagi masyarakat sekitar.
Namun demikian, dalam upaya konfirmasi langsung, pihak PPK Ridwan Subarkah beserta jajaran Satker PJN DIY tidak memberikan keterangan kepada wartawan. Permintaan informasi dan klarifikasi resmi diarahkan melalui Humas BBPJN Jawa Tengah–DIY sebagai saluran komunikasi institusional.
Dengan capaian progres tersebut, Jalan Kretek–Girijati dinilai menjadi salah satu proyek infrastruktur strategis di jalur selatan DIY yang tidak hanya menekankan percepatan konektivitas, tetapi juga aspek keberlanjutan teknis, lingkungan, dan dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat.
— Bardi






