Jakarta, analisapublik.id – Masa usia dini (0–6 tahun) merupakan “periode emas” yang krusial bagi pembentukan karakter, kesehatan, dan kemampuan belajar anak. Guna meluruskan berbagai miskonsepsi di masyarakat, tokoh pendidikan Fasli Jalal dan pakar PAUD Gutama meluncurkan buku berjudul “PAUD sebagai Fondasi Pembentukan Generasi Unggul” dalam ajang International Symposium on ECED yang digelar Tanoto Foundation di Jakarta, Rabu (17/12).
Meluruskan Pemahaman Keliru
Selama ini, masih banyak anggapan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hanyalah sekadar taman bermain atau persiapan masuk sekolah dasar. Namun, Gutama menegaskan bahwa stimulasi anak justru dimulai jauh sebelum itu.
“Ada pemahaman keliru yang mempersempit layanan PAUD hanya pada TK atau kelompok bermain. Padahal, stimulasi sejak dalam kandungan adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan anak usia dini,” ujar Gutama.
Menurutnya, perkembangan otak anak mencapai 90 persen pada usia lima tahun, di mana proses ini sudah dimulai sejak pekan ke-5 hingga ke-20 kehamilan. Tanpa stimulasi psikososial, asupan gizi, dan lingkungan yang mendukung, potensi besar anak sejak lahir tidak akan berkembang optimal.
Lima Pilar Pembangunan SDM
Fasli Jalal, yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas YARSI sekaligus Ketua Early Child Education and Development (ECED) Council Indonesia, menekankan bahwa PAUD adalah kunci utama pembangunan manusia.
“Usia dini adalah masa kritis yang tidak bisa diulang. Seringkali kita menganggap pendidikan menengah atau tinggi lebih penting, padahal seluruh fondasi dasar dibangun di usia dini,” kata Fasli.
Melalui ECED Council, Fasli mendorong penguatan ekosistem PAUD Holistik Integratif (PAUD HI) melalui lima pilar utama:
- Riset dan Inovasi.
- Model Layanan Edukasi.
- Layanan Kebijakan.
- Edukasi Publik.
- Kapasitas Publik.
Rekomendasi Menuju Indonesia Emas 2045
Buku setebal 168 halaman ini merangkum pengalaman puluhan tahun kedua penulis dalam kebijakan pendidikan. Di dalamnya, terdapat refleksi mengenai tantangan PAUD saat ini, mulai dari rendahnya keterlibatan orang tua hingga kurangnya kesadaran akan pentingnya akreditasi lembaga.
Gutama menyebutkan tiga pesan inti dalam buku ini:
- Waktu yang tidak bisa diulang: Masa awal kehidupan sangat menentukan kapasitas berpikir masa depan.
- Hak anak: Setiap anak berhak mendapatkan lingkungan tumbuh kembang yang berkualitas.
- Layanan esensial: Kebijakan pra-SD tidak boleh hanya fokus pada akses, tetapi juga kualitas layanan esensial bagi anak.
Peluncuran buku ini diharapkan mampu menggugah kesadaran para pemangku kepentingan untuk menjadikan PAUD sebagai investasi jangka panjang demi mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter menuju Indonesia Emas 2045. ( wa/at))










