HeadlinePemerintahan

Pemkot Surabaya Dorong Urban Farming Cabai dan Bawang Merah Sebagai Bentuk Ketahanan Pangan

251
×

Pemkot Surabaya Dorong Urban Farming Cabai dan Bawang Merah Sebagai Bentuk Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini

Surabaya, Analisapublik.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis lingkungan terbatas. Hal ini dibuktikan dengan digelarnya Penganugerahan Surabaya Urban Farming Competition 2025 di halaman kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Senin (15/12/2025).

Kompetisi ini menjadi ajang apresiasi bagi kelompok tani (poktan) yang berhasil membudidayakan komoditas krusial seperti cabai hingga bawang merah di tengah keterbatasan lahan kota.

Acara penganugerahan dihadiri langsung oleh Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, dan Asisten III Bidang Administrasi Umum Pemkot Surabaya, Anna Fajriatin, bersama jajaran camat dan lurah.

Rini Indriyani: Urban Farming Warga Surabaya Punya Semangat Luar Biasa
Rini Indriyani, yang juga istri Wali Kota Eri Cahyadi, menegaskan bahwa penghargaan ini adalah bukti nyata kemampuan warga Surabaya dalam mengelola urban farming secara mandiri.

“Adanya urban farming ini membuktikan bahwa Surabaya cukup memiliki warga yang semangatnya luar biasa. Dan hasilnya itu ternyata bagus-bagus, seperti tadi ada cabai dan bawang,” kata Rini.

Ia menekankan bahwa gerakan urban farming di Kota Surabaya tidak boleh berhenti. Menurut Rini, kegiatan ini harus digerakkan secara masif karena memiliki dua fungsi vital: menjaga ketahanan pangan warga sekitar dan menggerakkan perekonomian lokal.

“Seperti pesan Pak Wali Kota (Eri Cahyadi) sebelumnya, ketika sudah panen apa yang dilakukan selanjutnya,” ujarnya, menanyakan strategi hilirisasi hasil panen.

Rini secara khusus meminta Kepala DKPP untuk memastikan keberlanjutan urban farming agar hasilnya dapat menambah penghasilan warga Surabaya.

Target Tembus Hotel dan Supermarket
Rencana besar Pemkot adalah mengintegrasikan hasil panen urban farming ke rantai pasok yang lebih besar. Hasil panen dari poktan yang memenuhi standar kualitas tinggi ditargetkan bisa dijual ke hotel, rumah makan, hingga supermarket.

“Misal, standar untuk cabai harus yang panjangnya sekian, kemudian melon beratnya harus berapa kilogram, dan ikan berapa kilogram dan kandungan proteinnya. Itu yang harus kita jaga, agar standar-standar terpenuhi sesuai yang diminta oleh hotel, rumah makan itu,” jelas Rini.

Melalui standardisasi ini, ia berharap poktan di Surabaya akan lebih semangat membudidayakan dan mengembangkan hasil pertaniannya, meski hanya memanfaatkan teras atau pekarangan seadanya.

“Ini sesuai dengan Asta Cita Bapak Presiden bahwa salah satunya adalah ketahanan pangan yang harus kita bangun di Kota Surabaya. Dengan urban farming, Kota Surabaya bisa tidak lagi bergantung dengan daerah lain,” harapnya.

Fokus Cabai dan Bawang Merah Cegah Inflasi Akhir Tahun
Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menjelaskan mengapa kompetisi kali ini berfokus pada cabai dan bawang merah, berbeda dari tahun sebelumnya yang didominasi buah-buahan seperti melon.

“Dari pengalaman dua tahun lalu, kita melihat ketika hari raya Idulfitri, Iduladha, serta Natal dan Tahun Baru, harga cabai selalu mengalami kenaikan. Tapi, yang paling luar biasa pada saat Natal Tahun Baru, karena cuacanya sedang tidak baik-baik saja,” ungkap Antiek.

Pemilihan komoditas ini merupakan langkah antisipatif Pemkot untuk menstabilkan harga komoditas strategis yang rentan bergejolak akibat cuaca ekstrem di akhir tahun.

Antiek mengacungi jempol kualitas hasil panen poktan Surabaya kali ini, yang menurutnya tidak kalah baik dengan hasil dari daerah agraris lainnya. Ia juga menekankan pentingnya bimbingan teknis yang diberikan, mulai dari penggunaan pupuk, masa vegetatif dan generatif, hingga penanganan hama penyakit.

“Nanti yang sekarang sudah mendapatkan ilmunya bisa memberikan pengetahuannya kepada tetangga kiri kanannya, saudara-saudaranya, sehingga kita akan mendukung programnya Bapak Wali Kota yaitu Kampung Pancasila,” tutup Antiek, berharap ilmu urban farming ini menular dan menjadi basis penguatan ekonomi di tingkat RW.

(Res)

 

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.