EkbisGaya HidupHeadlinePemerintahan

Kemenkes Perluas Skrining TBC Terpadu di Puskesmas, Target 100 Lokasi Akhir Tahun

×

Kemenkes Perluas Skrining TBC Terpadu di Puskesmas, Target 100 Lokasi Akhir Tahun

Sebarkan artikel ini

Sidoarjo,infopublik.id-Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan segera memperluas program layanan skrining terpadu untuk mengidentifikasi secara dini penderita tuberkulosis (TBC) demi mencegah penyebaran penyakit tersebut.

​Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, di Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu, menyatakan bahwa saat ini program tersebut telah berjalan sebagai proyek percontohan di delapan puskesmas, termasuk di Bandung, Bogor, dan Semarang.

​”Hingga akhir tahun ini akan diperluas ke 100 puskesmas di delapan provinsi,” kata Budi.

​Program skrining TBC ini meliputi rontgen dada, pemeriksaan dan uji laboratorium (non-POCT), serta penyediaan alat Tes Cepat Molekuler (TCM), yang ditargetkan terlaksana secara nasional pada tahun 2026.

​Menurut Menkes Budi, delapan provinsi yang menjadi fokus perluasan ini adalah wilayah dengan kasus TBC tertinggi, antara lain:

  • Jawa Barat (234.380 kasus)
  • Jawa Timur (116.538 kasus)
  • Jawa Tengah (107.488 kasus)
  • Sumatera Utara (74.297 kasus)
  • DKI Jakarta (70.258 kasus)
  • Banten (50.298 kasus)
  • Sulawesi Selatan (45.472 kasus)
  • Nusa Tenggara Timur (17.928 kasus)

​Budi menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di puskesmas dianggap lebih efektif untuk mendeteksi dini penularan TBC karena lebih mudah dijangkau oleh masyarakat, ketimbang pelaksanaan di rumah sakit umum daerah.

​Menkes menambahkan, penanganan TBC adalah salah satu dari tiga program percepatan Presiden Prabowo Subianto di bidang kesehatan. Program ini bertujuan mengantisipasi penyebaran penyakit menular berbahaya yang diprediksi mampu merenggut sekitar 125 ribu nyawa pada tahun 2025.

​Budi juga menekankan bahwa penggunaan alat TCM mempermudah proses pengambilan sampel pasien menggunakan metode usap atau swab, tanpa memerlukan pengambilan sampel dahak, dengan hasil seakurat pemeriksaan laboratorium.

​”Permasalahan TBC ada pada fase pendeteksian atau skrining. Jika dengan alat TCM dan juga program tersebut mampu mendeteksi pasien yang tertular secara dini dan akurat, maka proses penyembuhan pasien akan lebih mudah karena obat TBC juga sudah tersedia,” pungkas Budi. ( wa/)an)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.