HeadlinePemerintahan

Batik Surabaya Mendunia, Kolaborasi Dekranasda-Gita Orlin Pamerkan “Culture Highclere” di in2motionfest

291
×

Batik Surabaya Mendunia, Kolaborasi Dekranasda-Gita Orlin Pamerkan “Culture Highclere” di in2motionfest

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, analisapublik.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), kembali menggebrak panggung fashion internasional. Berkolaborasi dengan desainer kenamaan, Gita Orlin, Batik Surabaya siap memukau ajang Indonesia International Modest Fashion Festival (in2motionfest) 2025 di Jakarta.

Koleksi spesial bertema “Culture Highclere” ini akan dipamerkan di JIEXPO Convention Center & Theater pada 8 hingga 12 Oktober 2025. Kolaborasi ini menampilkan 10 busana yang didominasi motif batik Bunga Bungur, Mangrove, dan Abhiboyo.

Tujuannya jelas: membuktikan bahwa Batik Surabaya sangat relevan dan bisa digunakan dalam fashion di berbagai masa, sekaligus menginspirasi perempuan muslim Indonesia untuk semakin percaya diri mengenakan Wastra Indonesia.

Ketua Dekranasda Kota Surabaya, Rini Indriyani, mengatakan kolaborasi ini adalah bentuk promosi Batik Surabaya yang terus-menerus dilakukan.

“Harapan kami ketika batik ini berkolaborasi dengan Gita Orlin, batik kami (Batik Surabaya) akan dikenal baik di nasional maupun di internasional,” ujar Rini Indriyani di Plaza Internatio, Kota Lama, Surabaya, Rabu (1/10/2025).

Ia menjelaskan, tiga motif yang dipilih untuk koleksi ini membawa pesan yang mencerminkan Kota Pahlawan:

Motif Bunga Bungur: Melambangkan sifat asli orang Surabaya, yakni terbuka dan egaliter, serta solidaritas dan toleransi.

Motif Abhiboyo: Menggambarkan sosok warga Surabaya yang halus, jujur, memiliki tanggung jawab besar, dan pemberani.

Motif Mangrove: Melambangkan ketangguhan dan kemampuan untuk berkembang di tengah dinamika kehidupan modern.

Motif Kembang Setaman: Perpaduan Bunga Bungur dan Mangrove, yang melambangkan harmoni antara budaya dan alam di Kota Surabaya.

Rini Indriyani bahkan secara langsung menjadi model untuk membuktikan bahwa Batik Surabaya dapat digunakan semua kalangan dengan berbagai bentuk badan.

“Saya ingin membuktikan bahwa batik itu bisa digunakan semua kalangan, semua orang dengan bentuk badan yang bermacam-macam. Ternyata di tangan Mbak Gita, batik itu jadi kelihatan lebih mewah,” jelasnya, mencontohkan busana perpaduan batik, bludru, dan aksen payet yang dikenakannya.

Rini Indriyani juga mengungkapkan bahwa kolaborasi sebelumnya dengan Gita Orlin sukses besar, di mana produk yang ditampilkan saat fashion show langsung sold out dan mendapat banyak pesanan dari pelanggan.

“Hal ini menunjukan bahwa batik, khususnya dari Surabaya digemari dan dapat menjadi tren busana di era saat ini. Semakin ke depan semakin lebih berinovasi, semakin lebih menarik lagi dan tentunya bisa diterima oleh pasar baik nasional maupun internasional,” tandasnya.

Sementara itu, desainer Gita Orlin menjelaskan bahwa koleksinya kali ini mengusung gaya era 1920-an atau Gatsby style, terinspirasi dari film Downton Abbey. Busana yang ditampilkan menggabungkan kain batik Surabaya dengan material mewah seperti Velvet/bludru, lace chantilly, sifon silk, organza silk, dan cotton silk.

“Dalam busana ini, saya menggunakan berbagai siluet, mulai dari mermaid, full klok, loose dress, hingga blazer dan palazzo, yang dipermanis dengan detail handmade embroidery, payet, dan Swarovski,” terangnya.

Gita Orlin menekankan bahwa koleksinya, dengan warna dominan marun dan burgundy, cocok untuk Generasi Z karena cutting-nya yang stylish dan menyesuaikan era.

“Kami ingin lebih memperkenalkan agar Batik Surabaya bisa dikenal ke seluruh Indonesia bahkan mungkin mancanegara. Next-nya kita inginnya bisa show-show di luar negeri juga,” ungkap Gita Orlin.

Ia menambahkan, kolaborasi ini juga secara nyata mendukung para UMKM Kota Surabaya, karena batik yang digunakan berasal dari perajin lokal seperti Batik Saraswati.

Sekadar Informasi: Kota Surabaya saat ini memiliki 12 Motif Batik yang sudah dipatenkan, di antaranya Batik Abhiboyo, Batik Kembang Bungur, Batik Mangrove Wonorejo, dan Batik Tjap Toendjoengan.

(Res)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.