Gaya HidupHeadlinePendidikan

Peran Krusial Orang Tua dalam Mengembangkan Bakat Panahan Anak Usia Dini

1054
×

Peran Krusial Orang Tua dalam Mengembangkan Bakat Panahan Anak Usia Dini

Sebarkan artikel ini

Surabaya, analisapublik.id  – Olahraga panahan semakin diminati anak-anak usia dini. Di balik setiap prestasi yang diraih, ada peran krusial orang tua yang tak hanya mendampingi, tetapi juga memahami seluk-beluk teknik dan sistem kompetisi.

Refliawan Sumargono, orang tua dari dua atlet panahan cilik asal Surabaya yang tergabung dalam klub Trah Pemanah Kota Surabaya di bawah naungan Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (Fespati), membagikan pengalamannya mendampingi anak-anaknya bertanding hingga level nasional.

“Biasanya panahan dibagi dalam dua sistem: berdasarkan kelas atau usia,” jelas Refli saat ditemui usai sesi latihan anaknya, awal pekan lalu.

Ia menguraikan, kategori kelas sering diterapkan untuk usia sekolah. Misalnya, anak-anak Taman Kanak-Kanak (TK) umumnya berlomba pada jarak 5 meter. Untuk kategori U9 (usia di bawah 9 tahun), jarak bisa bertambah menjadi 7 meter. Anak-anak kelas 1 hingga 3 SD juga umumnya bertanding pada jarak 7 meter.

“Kalau sudah masuk U12, jaraknya biasanya 10 meter. Namun, ada juga perlombaan yang menggunakan sistem kelas—kelas 4, 5, 6—yang tetap bisa di 10 meter. Anak saya sekarang kelas 6, usianya hampir 13 tahun, jadi sudah tidak bisa ikut U12, harus naik ke U18 dengan jarak hingga 20 meter,” paparnya.

Refli menekankan bahwa dalam kompetisi panahan, ketangkasan dan mental jauh lebih penting daripada sekadar usia atau kelas.

“Saat bertanding di turnamen terbuka Jombang, misalnya, juara 1 kategori U9 itu anak TK. Dia mengalahkan anak kelas 1 dan 2 SD. Jadi bukan soal umur, tapi soal ketangkasan,” tegasnya.

Situasi serupa terlihat di ajang Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) di Lombok. Hananta, seorang peserta kelas 6 SD sekaligus putra dari pelatih panahan Kurnia, harus bertanding di kategori U18 melawan pelajar SMA.

“Waktu itu dia kalah tipis di babak shoot-off lawan anak SMP. Tapi yang terpenting bukan kalah-menangnya, melainkan uji keterampilan dan mental bertanding,” ujar Refli.

Dukungan Aktif Orang Tua dan Pentingnya Jam Terbang

Sebagai orang tua, Refli memilih mendampingi anak-anaknya secara aktif. Di rumah, ia menyediakan fasilitas latihan berupa target busa, jagrak (penyangga busur), dan busur panahan.

“Saya juga ikut belajar teknik memanah. Tujuannya agar bisa mengoreksi jika anak saya salah posisi atau gaya,” tuturnya.

Ia menilai bahwa kompetisi bukan semata tentang medali, tetapi juga melatih karakter anak. “Jika sering ikut lomba, anak-anak bisa mengukur mentalnya. Mereka tahu siapa saingannya, dan bagaimana menyikapi tekanan,” tambahnya.

Putra pertama Akhtar Dzaki El Shaarawy kini berusia 12 tahun, sementara adiknya Barra Dzaki Reflian berusia 7 tahun baru masuk kelas 1 SD. Keduanya aktif mengikuti berbagai kejuaraan panahan.

“Kalau ditanya soal medali, ya belum rezeki di Fornas kemarin. Tapi saya melihat perkembangan teknik dan ketangguhan mereka sudah luar biasa,” kata pria berusia 37 tahun itu.

Refli menyimpulkan bahwa olahraga panahan bukan sekadar rutinitas, melainkan juga proses belajar bersama antara anak dan orang tua.

“Saya belajar bersama anak saya. Memahami tekniknya, menghargai prosesnya. Karena memanah itu bukan hanya tentang busur dan anak panah, tapi tentang melatih ketenangan, fokus, dan karakter,” pungkasnya.

Pelatih klub Trah Pemanah di bawah naungan Fespati, Kurnia Cahyanto, menambahkan bahwa meskipun beberapa turnamen tidak masuk dalam kalender resmi Fespati atau Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), pelatih dan orang tua tetap mengikutsertakan anak-anak asuhnya demi jam terbang dan pengalaman bertanding.

Perbedaan Turnamen Panahan: Resmi dan Tidak Resmi

Dalam dunia panahan, ada dua jenis turnamen terbuka: resmi dan tidak resmi. Turnamen resmi biasanya direkomendasikan oleh organisasi seperti Fespati (baik tingkat daerah maupun pusat), atau didukung oleh Dispora setempat.

“Misalnya Festival Majapahit Memanah (FMM) itu resmi, dan ada sertifikat yang diakui Dinas Pendidikan,” jelas Kurnia.

Sebaliknya, turnamen yang tidak mendapatkan rekomendasi tidak bisa diklaim dalam jalur prestasi. “Jika sertifikatnya tidak resmi, ya tidak dihitung untuk poin di Dinas Pendidikan. Tapi kalau resmi, bisa jadi bekal jalur prestasi,” tutupnya. ( wan/jey)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.