TULUNGAGUNG, ANALISA PUBLIK — Krisis air bersih akibat kemarau panjang semakin dirasakan masyarakat Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 14 desa di delapan kecamatan mengalami kekurangan pasokan air bersih.
Berdasarkan data BPBD, sebanyak 5.144 warga dari 1.907 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan. Sebagian besar wilayah yang mengalami kesulitan air berada di kawasan pegunungan dengan keterbatasan sumber mata air.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menyalurkan bantuan sebanyak 25.000 liter air bersih, Senin (12/10/2026).
Bantuan diberangkatkan menggunakan lima truk tangki, masing-masing berkapasitas 5.000 liter, dari halaman Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso.
Pemberangkatan dipimpin langsung Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak kekeringan.
Lima kecamatan yang menjadi sasaran distribusi bantuan tersebut meliputi Pucanglaban, Kalidawir, Tanggunggunung, Sendang, dan Pagerwojo.
Kekeringan Meluas dari 10 Menjadi 14 Desa
Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung, Achmad Mugiyono, menjelaskan bahwa wilayah terdampak kekeringan mengalami penambahan dari sebelumnya 10 desa menjadi 14 desa.
Delapan kecamatan yang terdampak meliputi Kalidawir, Besuki, Pucanglaban, Tanggunggunung, Campurdarat, Bandung, Sendang, dan Pagerwojo.
Sejumlah wilayah di Kecamatan Kalidawir dan Besuki dilaporkan menghadapi kondisi kekurangan air cukup berat. Sementara itu, jumlah warga terdampak di Kecamatan Pagerwojo mencapai 1.818 jiwa dan Tanggunggunung sebanyak 1.040 jiwa.
Kondisi geografis pegunungan serta terbatasnya sumber air menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.
Keterbatasan Armada Jadi Kendala Distribusi
BPBD Tulungagung terus mengirimkan bantuan air bersih secara bergiliran sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Namun, keterbatasan kendaraan pengangkut membuat distribusi belum dapat dilakukan secara bersamaan ke seluruh desa terdampak.
Dalam penanganan rutin, BPBD mengerahkan empat tangki air berkapasitas masing-masing 5.000 liter per hari. Pemerintah daerah juga merencanakan penambahan satu unit kendaraan tangki untuk memperkuat pelayanan selama kekeringan.
Keterlibatan BAZNAS dan sejumlah lembaga sosial turut membantu memperluas jangkauan distribusi air bersih kepada masyarakat.
Bantuan Berlanjut Selama Kekeringan
Plt Bupati Ahmad Baharudin menegaskan bahwa bantuan air bersih diperuntukkan bagi warga yang kesulitan memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah daerah melalui BPBD akan terus menyesuaikan penyaluran bantuan berdasarkan laporan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Penanganan kekeringan juga memerlukan koordinasi antara pemerintah daerah, lembaga sosial, dan masyarakat agar pendistribusian air bersih dapat menjangkau desa-desa yang paling membutuhkan.
Di tengah kemarau yang masih berlangsung, kesinambungan pasokan air menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi warga yang bergantung pada bantuan tangki untuk memperoleh air bersih.
Selain distribusi darurat, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan infrastruktur penyediaan air bersih sebagai upaya jangka panjang untuk mengurangi kerentanan wilayah terhadap kekeringan berulang.
Reporter: Endi Sunaryo | Editor: Aris Setyoadji






